RADARPAPUA - Arkeolog di Jepang baru saja menemukan patung kecil misterius yang disebut Haniwa dengan bentuk seperti penari kuno.
Patung ini diperkirakan berusia sekitar 1.500 tahun dan ditemukan di makam tua dari zaman Kofun.
Zaman Kofun adalah periode dalam sejarah Jepang sekitar abad ke-3 hingga abad ke-6 Masehi yang dikenal dengan gundukan makam besar.
Haniwa sendiri merupakan patung tanah liat yang biasa ditempatkan di sekitar makam sebagai simbol pelindung.
Menurut para ahli, patung ini tidak hanya sekadar dekorasi tapi juga punya makna spiritual yang sangat dalam.
Dilansir dari LiveScience, figur Haniwa penari ini diduga dipercaya sebagai tempat roh orang mati bersemayam.
Bentuk tubuhnya tampak seolah sedang bergerak menari dengan ekspresi wajah yang tenang.
Para arkeolog menyebut hal ini sebagai bukti bahwa masyarakat Jepang kuno sangat percaya pada kehidupan setelah mati.
Baca Juga: Misteri Makam di Peru: Kerangka Dengan Ikatan Tali Mengejutkan Arkeolog
Mereka meyakini bahwa roh orang mati tetap bisa hadir di dunia melalui simbol-simbol tertentu.
Patung Haniwa yang ditemukan ini juga memperlihatkan keterampilan seni tanah liat yang luar biasa detail.
Para peneliti menilai ekspresi wajah pada Haniwa dibuat dengan teliti untuk menggambarkan rasa damai.
Hal ini sejalan dengan keyakinan bahwa arwah harus diberi jalan tenang menuju dunia lain.
Beberapa ahli berpendapat bahwa Haniwa penari ini mungkin digunakan dalam ritual pemakaman yang sakral.
Selain itu, ada kemungkinan Haniwa berfungsi sebagai penjaga makam dari roh jahat.
Arkeolog menemukan patung ini dalam kondisi masih cukup baik meski sudah terkubur ribuan tahun.
Tanah liat yang digunakan rupanya mampu bertahan lama karena dibakar dengan suhu tinggi.
Temuan ini menjadi salah satu bukti baru betapa kuatnya tradisi spiritual Jepang kuno.
Patung Haniwa juga sering dibuat dalam bentuk lain seperti prajurit, hewan, dan rumah miniatur.
Setiap bentuk memiliki makna sendiri, dan Haniwa penari ini tampaknya melambangkan kegembiraan roh.
Penemuan tersebut menambah wawasan tentang bagaimana masyarakat Kofun melihat hubungan manusia dengan dunia roh. (aak)
Editor : Richard Lawongan