Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Tradisi Hammam: Antara Kebersihan, Spiritualitas, dan Warisan Budaya Islam

Prisilia Rumengan • Selasa, 2 September 2025 | 20:54 WIB

Dibangun pada abad ke-15 oleh Isa Bey, hammam ini terletak di tengah-tengah Pasar Lama Skopje, antara Masjid Murat Pasha dan Penginapan Suli.
Dibangun pada abad ke-15 oleh Isa Bey, hammam ini terletak di tengah-tengah Pasar Lama Skopje, antara Masjid Murat Pasha dan Penginapan Suli.

RADARPAPUA - Hammam Turki bukan sekadar tempat membersihkan tubuh, melainkan institusi yang berakar kuat dalam kehidupan publik dan religius masyarakat Muslim. Berbeda dengan thermae Graeco-Romawi yang lebih menekankan pada relaksasi, hammam berkembang menjadi pusat spiritualitas dan kebersamaan.

Menurut Prof. Mesut Idriz, sejarawan peradaban Islam dari University of Sharjah, hammam memiliki fungsi religius karena terkait erat dengan praktik ghusl—mandi besar yang wajib dilakukan dalam keadaan tertentu. Hal ini menjadikan hammam sebagai ruang suci yang melampaui fungsi higienis semata.

Hammam juga menjadi bagian penting dari perencanaan kota Islam. Di era Ottoman, membangun hammam sama pentingnya dengan mendirikan sekolah. Fasilitas ini melayani semua lapisan masyarakat, dengan biaya masuk yang rendah agar bisa diakses siapa saja. Tak hanya itu, hammam juga menjadi sumber pendapatan wakaf yang menopang layanan sosial.

Prof. Idriz menekankan bahwa tradisi hammam mencerminkan penekanan Islam pada kesucian air dan kebersihan sebagai bagian dari iman. Ungkapan populer “Kebersihan adalah sebagian dari iman” menegaskan peran hammam sebagai sarana menjaga kebersihan lahir sekaligus kesiapan spiritual.

Selain fungsi religius, hammam juga berperan sebagai simbol budaya dan arsitektur. Banyak bangunan hammam Ottoman masih berdiri megah hingga kini, menjadi bukti perpaduan antara seni, arsitektur, dan nilai spiritual. Di Balkan, Afrika Utara, hingga Andalusia, hammam beradaptasi dengan budaya lokal, tetapi tetap menjaga prinsip pemisahan gender dan praktik keagamaan.

Menurut Dr. Eyup Kul, pada masa Ottoman, hammam menjadi fasilitas publik yang wajib ada di setiap kota. Pemerintah juga mengawasi kebersihan dan keteraturan hammam agar tetap menjadi ruang sehat dan tertib. Hal ini menunjukkan bahwa hammam berfungsi sebagai simbol masyarakat bersih, sehat, dan bermoral.

Kini, meskipun banyak hammam yang tinggal puing, masih ada puluhan yang beroperasi di Istanbul dan berbagai belahan dunia. Prof. Idriz berharap penelitian ini mendorong pelestarian tradisi hammam tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai inspirasi dalam pariwisata kesehatan, restorasi arsitektur, hingga pendidikan lintas budaya.(aj)

 

Editor : Prisilia Rumengan
#Ottoman #budaya #warisan dunia #sejarah #Islam