Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Rahasia Pewarna Biru 34.000 Tahun Lalu Terungkap

Prisilia Rumengan • Selasa, 2 September 2025 | 20:59 WIB

Fragmen mikro biru memanjang arkeologis yang diekstraksi dari cetakan kedua terdalam.
Fragmen mikro biru memanjang arkeologis yang diekstraksi dari cetakan kedua terdalam.

RADARPAPUA - Para peneliti internasional yang dipimpin Universitas Ca’ Foscari Venesia berhasil menemukan jejak molekul indigotin, senyawa biru alami, pada alat batu berusia 34.000 tahun dari Gua Dzudzuana, Kaukasus, Georgia. Senyawa ini berasal dari tanaman Isatis tinctoria L. (woad), yang ternyata sudah diolah manusia prasejarah meski bukan tanaman pangan.

Penemuan ini menjadi bukti pertama penggunaan indigotin atau indigo pada artefak zaman Paleolitik Atas. Molekul tersebut terbentuk melalui reaksi oksigen dengan prekursor alami dalam daun woad. Fakta ini menunjukkan bahwa manusia purba sudah mampu memanfaatkan tanaman bukan hanya untuk makanan, tetapi juga untuk keperluan lain seperti pewarna dan obat.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal PLOS One ini membuka wawasan baru tentang interaksi Homo sapiens awal dengan sumber daya alam. Tanaman tidak hanya dianggap sebagai sumber nutrisi, melainkan juga bahan penting dalam aktivitas sehari-hari yang lebih kompleks, termasuk pewarnaan material yang mudah rusak.

Analisis dilakukan pada alat batu yang ditemukan tahun 2000-an di Gua Dzudzuana. Dengan teknik mikroskopi optik dan konfokal, para peneliti menemukan sisa-sisa biru pada permukaan batu, sering kali bersama butiran pati. Konsentrasi tertinggi muncul di bagian yang memperlihatkan keausan jelas akibat penggunaan.

Untuk memastikan kandungan zat tersebut, tim menggunakan spektroskopi Raman dan FTIR. Hasilnya menegaskan bahwa residu biru tersebut memang mengandung indigotin. Penelitian ini melibatkan kolaborasi beberapa institusi, termasuk Universitas Padua dan laboratorium sinchrotron Elettra Sincrotrone Trieste.

Pertanyaan besar muncul: untuk apa indigotin digunakan pada masa itu? Hipotesis terbuka mencakup penggunaannya sebagai pewarna serat alami atau bahkan sebagai ramuan obat. Eksperimen replikasi dilakukan dengan mengolah tanaman woad menggunakan batu serupa, dan hasilnya berhasil menunjukkan jejak residu yang mirip dengan temuan arkeologis.

Penemuan ini menegaskan kecerdikan manusia prasejarah dalam mengeksplorasi kekayaan alam. Mereka sudah memahami potensi tanaman lebih jauh dari sekadar sumber makanan, sekaligus memperlihatkan sisi awal dari perkembangan teknologi, seni, dan pengobatan tradisional.(aj)

 

Editor : Prisilia Rumengan
#Indigo #Paleolitik #arkeologi #Sejarah Manusia