Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Æthelstan: Raja Inggris yang Terlupakan dalam Sejarah

Prisilia Rumengan • Rabu, 3 September 2025 | 15:09 WIB

Profesor David Woodman dengan potret Æthelstan di Perpustakaan Parker, Corpus Christi College, Cambridge.
Profesor David Woodman dengan potret Æthelstan di Perpustakaan Parker, Corpus Christi College, Cambridge.

RADARPAPUA - Sejarah Inggris sering kali fokus pada Pertempuran Hastings 1066. Padahal, 1.100 tahun lalu, seorang tokoh penting, Æthelstan, dinobatkan sebagai raja pertama yang menyatukan Inggris. Dengan peringatan 1.100 tahun penobatannya, Profesor David Woodman berusaha mengembalikan nama Æthelstan ke tempatnya yang layak. Ia berpendapat bahwa sejarah pembentukan Inggris harus lebih sering dipelajari.

Menurut Woodman, Æthelstan tidak begitu terkenal karena kurangnya dokumentasi. Kakeknya, Alfred yang Agung, memiliki penulis biografi, sementara Æthelstan tidak. Setelah kematiannya, propaganda yang mengagungkan Raja Edgar juga menutupi prestasinya, membuat Edgar lebih dikenal sebagai tokoh sentral.

Secara militer, Æthelstan sangat tangguh. Ia menaklukkan benteng Viking dan menjadi penguasa pertama atas wilayah yang diakui sebagai "Inggris." Kemenangan puncaknya adalah Pertempuran Brunanburh pada 937 AD.

Selain itu, Æthelstan meluncurkan "revolusi pemerintahan" dengan membuat undang-undang sistematis. Ia juga menunjukkan kekuasaannya melalui dokumen kerajaan yang terperinci. Dengan begitu, ia berhasil menciptakan efisiensi administrasi yang belum pernah ada sebelumnya.

Æthelstan juga merupakan pendukung kuat ilmu pengetahuan dan agama. Ia membalikkan kemunduran dalam pembelajaran dan mensponsori para cendekiawan. Hal ini menunjukkan usahanya untuk memenangkan dukungan komunitas keagamaan.

Meskipun kerajaannya terpecah setelah kematiannya, Woodman menolak argumen bahwa ini mengurangi statusnya sebagai raja pertama. Warisan dan cara pemerintahannya terus membentuk pola kepemimpinan selama beberapa generasi. Dengan demikian, Æthelstan layak mendapat pengakuan yang setara.(aj)

 
Editor : Prisilia Rumengan
#Inggris #raja #arkeologi #sejarah