Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Jejak Migrasi Bangsa Slavia yang Ubah Wajah Eropa

Richard Lawongan • Kamis, 4 September 2025 | 19:59 WIB

Pemakaman tanpa gangguan seorang perempuan dewasa dengan penanda genetik yang menunjukkan asal-usul lokal. Barang-barang makam: perhiasan manik-manik kaca dan amulet kerang cowrie. Pemakaman Pra-Slavi
Pemakaman tanpa gangguan seorang perempuan dewasa dengan penanda genetik yang menunjukkan asal-usul lokal. Barang-barang makam: perhiasan manik-manik kaca dan amulet kerang cowrie. Pemakaman Pra-Slavi

RADARPAPUA - Sejarah Eropa dipenuhi kisah migrasi besar, mulai dari suku Goth hingga bangsa Hun. Namun, penyebaran bangsa Slavia sejak abad ke-6 M tetap menjadi misteri panjang. Mereka muncul dalam catatan Bizantium dan Barat, namun meninggalkan sedikit jejak tertulis maupun arkeologis, membuat asal-usulnya lama diperdebatkan.

Bangsa Slavia awal hidup sederhana. Mereka membangun rumah kecil, membuat gerabah polos, dan membakar jenazah alih-alih menguburkannya. Hal ini membuat penelitian DNA sulit dilakukan berabad-abad kemudian. Tanpa catatan tertulis, istilah "Slavia" lebih sering dipakai oleh penulis luar, menambah kerumitan identitas mereka.

Kini, penelitian besar yang dipublikasikan di Nature oleh tim internasional HistoGenes memberi jawaban baru. Dari lebih 550 genom kuno, para ilmuwan menemukan akar bangsa Slavia berada di wilayah Belarus selatan hingga Ukraina tengah. Hasil ini sejalan dengan temuan linguistik dan arkeologi sebelumnya.

Migrasi besar mulai abad ke-6 membawa warisan genetika Slavia menyebar ke Eropa Tengah dan Timur. Di Jerman Timur, lebih dari 85% populasi digantikan pendatang baru, sementara di Polandia, penduduk lama dengan jejak Skandinavia nyaris hilang. Namun, di Balkan, Slavia bercampur dengan penduduk lokal, menciptakan komunitas hibrida yang bertahan hingga kini.

Menariknya, ekspansi Slavia bukanlah penaklukan ala kerajaan. Mereka membangun komunitas fleksibel berbasis keluarga besar dan jaringan kekerabatan. Pola ini berbeda di tiap daerah: ada yang sangat homogen seperti di Polandia, ada pula yang berbaur seperti di Kroasia. Ini menunjukkan bahwa identitas Slavia bukan satu bentuk tunggal, melainkan mosaik beragam.

Lebih jauh, penelitian ini membantah anggapan bahwa hanya laki-laki yang bermigrasi. Bukti genetik menunjukkan seluruh keluarga berpindah bersama. Hal ini memperkuat gagasan bahwa penyebaran Slavia adalah gerakan akar rumput—bukan pasukan elit yang memaksakan kekuasaan, melainkan masyarakat egaliter yang mudah beradaptasi.

Kini, kita tahu bahwa migrasi Slavia adalah salah satu peristiwa demografis terbesar yang mengubah wajah Eropa. Bahasa, budaya, hingga DNA jutaan orang modern di Eropa Tengah dan Timur masih menyimpan jejak pergerakan ini. Kisah Slavia bukan hanya tentang perpindahan, melainkan tentang bagaimana masyarakat sederhana mampu membentuk fondasi peradaban baru.(aj)

Editor : Richard Lawongan
#Eropa #migrasi #DNA kuno #sejarah #Arkeogenetika