RADARPAPUA - Setahun lalu, Google terancam dibongkar karena dianggap memonopoli mesin pencari. Namun, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan putusan pengadilan terbaru membuat raksasa teknologi itu selamat dari pemecahan besar-besaran.
Hakim Amit Mehta memutuskan Google tidak perlu melepas Chrome maupun Android. Meski begitu, Google wajib berbagi sebagian data indeks pencariannya dengan kompetitor terpilih, serta dilarang membuat kontrak eksklusif dengan produsen perangkat.
Pada 2024, pengadilan menilai Google menjaga dominasinya dengan membayar miliaran dolar agar menjadi mesin pencari bawaan di iPhone dan perangkat Samsung. Saat itu, Departemen Kehakiman AS bahkan menimbang pemecahan Google sebagai solusi.
Namun, lanskap berubah cepat. Munculnya ChatGPT, Claude, hingga Gemini memicu tren pencarian baru: AI-generated answers. Survei Bain & Company menunjukkan 80% pengguna puas dengan jawaban AI, membuat mereka berhenti pada ringkasan tanpa mengklik tautan.
Bagi Google, tren “zero-click search” ini berbahaya. Sekitar 80% pendapatannya berasal dari iklan yang bergantung pada klik. Jika pengguna berhenti membuka tautan, bisnis intinya ikut terancam.
Karena itu, pengadilan menilai monopoli Google sudah tidak sesignifikan dulu. Kompetitornya bukan lagi Bing, melainkan model AI generatif yang bisa menggoyang dominasi mesin pencari tradisional.
Kasus ini mengingatkan pada monopoli Internet Explorer yang akhirnya runtuh oleh munculnya teknologi baru. Pertanyaannya: apakah AI akan menjadi “Google Chrome” berikutnya, atau justru mengokohkan kekuasaan Google di era pencarian baru?(aj)
Editor : Prisilia Rumengan