RADARPAPUA - Sebuah penemuan arkeologi mengejutkan datang dari Domasław, Polandia. Tim yang dipimpin Dr. Agata Hałuszko menemukan ornamen yang dibuat dari kumbang dalam sebuah makam kremasi anak berusia 9–10 tahun. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Antiquity.
Makam tersebut berasal dari budaya Lusatian Urnfield, periode Hallstatt (850–400 SM). Dalam satu urn berisi jasad anak, peneliti juga menemukan tulang kambing atau domba, fibula perunggu berbentuk harpa, anyaman rambut, potongan kulit birch, serbuk sari dandelion, dan 17 cangkang kumbang.
Kumbang yang digunakan berasal dari spesies Phyllobius viridicollis. Analisis menunjukkan kepala, kaki, dan perut serangga itu sengaja dihilangkan, lalu sebagian tubuh kumbang dirangkai pada sehelai rumput, menyerupai kalung sederhana.
Uniknya, keberadaan kumbang memberi petunjuk waktu pemakaman. Serangga ini hanya muncul pada Mei hingga Juli, sehingga kemungkinan besar prosesi kremasi dan penguburan berlangsung pada akhir musim semi atau awal musim panas.
Menurut Dr. Hałuszko, pelestarian benda organik rapuh seperti ini jarang terjadi. Cangkang kumbang bisa bertahan karena berada di dekat benda perunggu. Korosi tembaga menciptakan lapisan pelindung alami yang mengawetkan serangga, tekstil, hingga sisa tanaman.
Alasan penggunaan kumbang masih menjadi misteri. Namun, praktik membuat perhiasan dari serangga bukan hal asing. Suku Hutsul di Ukraina pernah membuat kalung dari kumbang, sementara pada era Victoria di Inggris, perhiasan serangga sempat menjadi tren.
Meski sulit dipastikan, peneliti meyakini ornamen kumbang ini dibuat khusus untuk pemakaman. Temuan langka ini menunjukkan betapa pentingnya simbolisme fauna, khususnya serangga, dalam praktik budaya dan spiritual masyarakat kuno.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan