RADARPAPUA - Penelitian terbaru mengungkap bahwa banyak individu yang dimakamkan di Seddin, Jerman, pada Zaman Perunggu bukanlah penduduk asli. Mereka kemungkinan berasal dari wilayah lain di Eropa, menjadikan Seddin sebagai pusat pertemuan budaya dan politik pada 900–700 SM.
Sebelumnya, arkeolog memang menemukan artefak dari berbagai daerah Eropa di Seddin. Namun, hal itu belum bisa memastikan apakah manusia juga berpindah, atau hanya barang dagangan yang datang. Studi baru ini untuk pertama kalinya menganalisis sisa-sisa manusia guna menjawab pertanyaan tersebut.
Tim internasional menganalisis tulang telinga bagian dalam dari kremasi elit yang dimakamkan di gundukan besar, termasuk situs Wickbold I abad ke-9 SM. Tulang ini dipilih karena terbentuk saat masa kanak-kanak dan menyimpan jejak kimia makanan sejak awal kehidupan.
Hasilnya menunjukkan tanda isotop strontium pada tulang berbeda dari kondisi lingkungan sekitar Seddin. Artinya, mereka bukan berasal dari daerah setempat, melainkan dari wilayah yang lebih jauh seperti Skandinavia Selatan, Eropa Tengah, hingga kemungkinan Italia Utara.
Penelitian ini menunjukkan elit Seddin memiliki mobilitas tinggi dan jaringan internasional luas. Mereka mungkin memainkan peran penting dalam perdagangan dan aliansi antarwilayah di Eropa Zaman Perunggu.
Namun, peneliti menegaskan bahwa temuan ini hanya mewakili kalangan elit, bukan keseluruhan populasi. Kuburan megah mereka memberi bukti bahwa status sosial berhubungan erat dengan mobilitas dan asal-usul yang beragam.
Dengan demikian, Seddin tampaknya bukan sekadar pemukiman lokal, melainkan pusat penting hubungan internasional. Studi ini menambah pemahaman baru bahwa migrasi manusia sudah menjadi bagian penting dalam dinamika sosial dan politik Eropa sejak ribuan tahun lalu.(aj)
Editor : Richard Lawongan