RADARPAPUA - Di tengah gurun tandus Chad utara, tim arkeolog menemukan bukti mengejutkan: wilayah yang kini kering pernah menjadi “Sahara Hijau.” Ekskavasi di Gaora Hallagana, Ennedi West, mengungkap jejak manusia purba yang hidup di kawasan subur ribuan tahun lalu.
Djimet Guemona, arkeolog berusia 35 tahun, menyebut tiap lapisan pasir yang disapu kuasnya bagaikan membuka halaman sejarah. Temuan fragmen tembikar dan arang menjadi tanda kehidupan manusia yang pernah berkembang di wilayah ini.
Ennedi, yang kini berstatus Cagar Alam dan Budaya sejak 2018 serta masuk daftar Warisan Dunia UNESCO, menyimpan puluhan ribu lukisan dan ukiran prasejarah. Sayangnya, penelitian di wilayah ini masih minim dan lebih banyak dilakukan ilmuwan asing.
Dengan bantuan aplikasi ponsel, arkeolog dapat mendeteksi pigmen lukisan purba yang tak kasatmata. Lukisan kawanan sapi, kuda nil, jerapah, hingga gajah menunjukkan bahwa kawasan ini pernah memiliki padang rumput, hutan, dan sungai pada periode “Sahara Hijau” 10.000–3.000 SM.
Fragmen tembikar bergelombang yang ditemukan bahkan diperkirakan berusia 7.000 SM. Temuan ini membuka peluang besar untuk studi karbon dating dan penggalian lebih dalam, demi memahami bagaimana manusia beradaptasi ketika Sahara berubah semakin kering.
Namun, penelitian di Ennedi penuh tantangan. Dari medan yang sulit diakses hingga jejak perang Chad-Libya yang masih terlihat. Meski begitu, para peneliti menyebut situs ini bagaikan “Lascaux seratus ribu kali lipat” dibanding gua terkenal di Prancis.
Pemerintah Chad kini menyiapkan rencana pengembangan wisata berbasis warisan budaya. Dengan dukungan African Parks, diharapkan penelitian sekaligus pariwisata dapat berjalan beriringan, melestarikan sejarah sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat lokal.(aj)