Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Peluit Tulang 3.300 Tahun dari Mesir: Jejak Polisi Penjaga Makam Firaun

Prisilia Rumengan • Selasa, 23 September 2025 | 18:51 WIB

Falang Bos juvenil dengan satu perforasi di sepanjang tubuhnya. Panah merah menunjukkan striasi akibat pengeboran. Panah biru menunjukkan area kerusakan rayap.
Falang Bos juvenil dengan satu perforasi di sepanjang tubuhnya. Panah merah menunjukkan striasi akibat pengeboran. Panah biru menunjukkan area kerusakan rayap.

 

RADARPAPUA - Arkeolog di Mesir menemukan peluit berusia 3.300 tahun yang terbuat dari tulang jari sapi. Artefak unik ini diyakini digunakan oleh polisi untuk menjaga para pekerja makam kerajaan. Penemuan tersebut dilakukan pada 2008 di kota kuno Akhetaten, atau Amarna, namun baru diidentifikasi kini.

Peluit tulang ini ditemukan di sebuah bangunan kecil di permukiman pekerja yang dikenal sebagai Stone Village. Lokasi tersebut berada di dekat kompleks pemakaman kerajaan, area yang diketahui dijaga ketat oleh aparat keamanan pada masa itu.

Benda ini dibuat dari tulang sapi muda dengan sebuah lubang yang dibor di sepanjang batangnya. Para peneliti menggunakan mikroskop digital dan fotografi makro untuk menganalisis bekas pemakaian. Mereka kemudian membuat replika dari tulang sapi modern, dan hasilnya mampu menghasilkan suara nyaring bernada tinggi.

Uji coba ini menguatkan dugaan bahwa artefak tersebut adalah peluit sinyal, bukan alat musik. Alasannya, peluit itu hanya bisa menghasilkan satu nada. Para peneliti juga menolak kemungkinan bahwa benda ini merupakan mainan, wadah, atau figur karena tidak ada bekas pakai yang mendukung hipotesis tersebut.

Konteks penemuan semakin memperkuat kesimpulan. Peluit ini adalah satu-satunya benda yang ditemukan di bangunan kecil yang mungkin berfungsi sebagai pos jaga atau tempat istirahat personel keamanan. Hal ini memberi petunjuk bahwa peluit tersebut memang digunakan untuk keperluan patroli.

Dalam laporan yang diterbitkan di International Journal of Osteoarchaeology, tim peneliti menekankan bahwa benda sederhana ini menjadi pengingat adanya aspek sensorik dan psikologis dalam kontrol sosial sehari-hari di Mesir kuno. Suara peluit bisa menjadi alat efektif untuk menegakkan aturan di permukiman pekerja.

Penemuan ini menunjukkan pentingnya menggali lebih dalam situs kehidupan sehari-hari, bukan hanya makam dan kuil megah. Dari benda kecil seperti peluit tulang, kita dapat memahami detail baru tentang organisasi sosial, keamanan, dan kehidupan masyarakat di era firaun.(aj)

 

Editor : Prisilia Rumengan
#Peluit Panjang #tulang #Mesir kuno #arkeologi #sejarah