RADARPAPUA - Peneliti mengungkap bahwa seorang anak Maya sekitar usia 7 tahun pernah memiliki inlay gigi dari giok hijau, keberanian budaya yang jarang ditemukan sebelumnya
Beberapa artefak gigi ini disimpan di Museum Popol Vuh di Guatemala dan baru dianalisis dalam penelitian terbaru.
Penelitian ini menantang asumsi lama bahwa dekorasi gigi (“tooth inlay”) hanya untuk orang dewasa saja dalam budaya Maya.
Gigi-gigi itu menunjukkan bahwa inlay sudah ditempel saat anak masih hidup, bukan sebagai hiasan setelah kematian.
Para peneliti memeriksa tiga gigi yang memiliki inlay giok: satu dari gigi seri atas kiri, satu dari gigi taring atas kanan, dan satu dari gigi seri bawah.
Berdasarkan perkembangan akar gigi, mereka memperkirakan usia pemilik gigi antara 7 hingga 10 tahun.
Masih belum jelas apakah ketiga gigi itu milik satu orang atau beberapa orang berbeda.
Baca Juga: Peluit Tulang 3.300 Tahun dari Mesir: Jejak Polisi Penjaga Makam Firaun
Sebelumnya, dekorasi gigi seperti ini banyak ditemukan pada orang Maya dewasa pada periode Klasik dan Postklasik.
Dekorasi gigi Maya bisa berupa pengikiran (filings), ukiran (engraving), atau pembuatan ruang kecil untuk memasang batu atau mineral.
Para pengrajin zaman dulu menggunakan alat batu (lithic tool) untuk membuat lubang kecil di permukaan gigi dan kemudian menempatkan giok atau bahan lain di dalamnya.
Setelah menempatkan giok, mereka menempelkannya dengan semacam perekat organik agar tetap berada di gigi.
Menariknya, analisis sinar-X menunjukkan bahwa prosedur ini tidak merusak bagian inti gigi (pulp) pada contoh tersebut.
Para ahli menyebut bahwa praktik ini sangat jarang bagi anak-anak, sehingga penemuan ini sangat penting untuk memahami budaya Maya.
Sebelum ini, satu kasus dekorasi gigi anak pernah ditemukan di Belize—anak usia 3-4 tahun—tapi kemungkinan besar inlay itu dilakukan setelah kematian.
Karena kurangnya konteks arkeologis (gigi-gigi itu tidak ditemukan bersama kerangka lengkap), banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab tentang asal usul dan status sosial pemiliknya.
Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa dekorasi gigi untuk anak bisa jadi menunjukkan status sosial atau simbol masuknya anak ke tanggung jawab dewasa dalam komunitas Maya.
Ada kemungkinan bahwa praktik semacam ini bersifat lokal atau regional, bukan praktik umum di seluruh dunia Maya.
Perbedaan kualitas pengerjaan pada tiga gigi itu juga menunjukkan bahwa mungkin orang atau pengrajin berbeda yang membuatnya.
Penemuan ini membuka peluang studi lebih lanjut tentang bagaimana budaya Maya memperlakukan masa kanak-kanak dan transisi ke dewasa.
Bagi anak SMP, kisah ini bisa menunjukkan bagaimana orang kuno punya cara berbeda untuk mempercantik diri atau menunjukkan status.
Dengan penelitian lebih banyak, mungkin akan ditemukan gigi anak Maya lain yang juga dihiasi, sehingga gambaran budaya Maya bisa makin lengkap. (aak)
Editor : Richard Lawongan