Google Bangkit dari Olok-olok, Kini Jadi Raksasa AI
Prisilia Rumengan• Rabu, 24 September 2025 | 16:35 WIB
CEO Google Sundar Pichai berjalan menuju makan siang di Konferensi Allen & Company Sun Valley pada tanggal 9 Juli 2025.
RADARPAPUA - Awal 2023, Google tergesa-gesa meluncurkan Bard untuk menyaingi ChatGPT. Namun, bukannya menuai pujian, AI itu justru bikin malu setelah salah menjawab soal teleskop James Webb. Para analis pun khawatir dominasi Google Search akan tergerus.
Setahun kemudian, Google kembali jadi bahan olok-olok lewat fitur AI Overviews yang menyarankan makan batu dan resep pizza dengan lem. Meski begitu, langkah ini justru jadi awal kebangkitan raksasa teknologi asal Mountain View tersebut.
Di tengah krisis reputasi, Google melakukan perombakan besar. Sergey Brin kembali aktif, semua tim AI disatukan di bawah Google DeepMind, dan Demis Hassabis memimpin arah baru. Ditambah, Google mulai memanfaatkan chip AI internal, TPU, untuk mempercepat pengembangan.
Hasilnya mulai terlihat. NotebookLM hadir sebagai alat cerdas yang bisa meringkas dokumen jadi tulisan mudah dipahami atau bahkan podcast. Lalu, Veo 3 mengguncang dengan kemampuan menghasilkan video yang presisi.
Google juga meluncurkan AI Mode di Search, Pixel terbaru dengan fitur zoom 100x dan terjemahan real-time, hingga integrasi video generatif di YouTube. Produk-produk ini menunjukkan AI Google bukan lagi demo, tapi siap dipakai nyata.
Puncaknya, Gemini lewat fitur Nano Banana jadi viral dan bahkan mengalahkan ChatGPT di iPhone. Kabar bahwa Apple ingin memakai Gemini untuk Siri makin mempertegas posisi Google. Meski monetisasi AI masih tanda tanya, Google kini dianggap bermain dalam strategi jangka panjang.
Dari "glue pizza" ke puncak AI, perjalanan Google membuktikan satu hal: jangan buru-buru meremehkan raksasa yang sempat tersandung.(Aj)