Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Jejak Jaring Purba: Ilmuwan Jepang Rekonstruksi Teknologi Jomon Berusia 6.000 Tahun

Prisilia Rumengan • Minggu, 28 September 2025 | 21:34 WIB

Tomografi terkomputasi (CT) sinar-X digunakan untuk memeriksa dan merekonstruksi secara digital jejak jaring yang diawetkan dalam tembikar dari wilayah Hidaka di Hokkaido, Jepang.
Tomografi terkomputasi (CT) sinar-X digunakan untuk memeriksa dan merekonstruksi secara digital jejak jaring yang diawetkan dalam tembikar dari wilayah Hidaka di Hokkaido, Jepang.

RADARPAPUA - Sebuah pencapaian arkeologi tercapai di Jepang ketika tim peneliti dari Universitas Kumamoto berhasil merekonstruksi struktur jaring penangkap ikan dari periode Jomon (±14.000–900 SM). Dengan teknologi CT-scan resolusi tinggi dan replika silikon, mereka menghidupkan kembali detail jaring berusia lebih dari 6.000 tahun. Temuan ini dipublikasikan di Journal of Archaeological Science.

Tim yang dipimpin Prof. Emeritus Hiroki Obata meneliti pecahan tembikar dari situs di Hokkaido dan Kyushu. Jejak jaring yang terperangkap dalam tanah liat dan permukaan tembikar akhirnya terungkap, lengkap dengan bentuk simpul, arah lilitan benang, hingga ukuran mata jaring.

Hasil studi menunjukkan adanya keragaman teknik pembuatan jaring antarwilayah. Di Hokkaido, ditemukan jaring bermata lebar dengan simpul reef knot rapat—diduga dipakai untuk menangkap ikan laut. Menariknya, jaring tersebut kemudian didaur ulang sebagai bahan struktural dalam pembuatan tembikar.

Sebaliknya, di Kyushu ditemukan jaring bermata halus dengan simpul sederhana atau metode lilitan khusus. Jaring ini kemungkinan digunakan sebagai cetakan atau lapisan pelepas saat membuat tembikar, dan sebelumnya mungkin berfungsi sebagai tas atau wadah.

Analisis juga memperkirakan pembuatan satu jaring membutuhkan lebih dari 85 jam kerja. Fakta ini menunjukkan nilai tinggi jaring dalam budaya Jomon serta alasan kuat di balik praktik daur ulangnya. Menurut Prof. Obata, “Pemanfaatan kembali jaring ini mencerminkan bentuk awal keberlanjutan, mirip dengan konsep SDGs masa kini.”

Temuan ini menantang anggapan lama bahwa semua jejak jaring kuno adalah alat tangkap ikan. Justru, penelitian membuktikan bahwa jaring memiliki "kehidupan ganda"—sebagai alat praktis sekaligus bahan dalam pembuatan tembikar.

Selain mengungkap teknologi purba, studi ini juga membuka jalan baru untuk mendeteksi serta melestarikan material organik yang telah lama hilang dalam catatan arkeologi.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#teknologi kuno #Sejarah Jepang #jomon #arkeologi