Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kenapa “Hobbit” Purba Tumbuh Lambat dan Tak Selalu Otaknya Membesar

Richard Lawongan • Selasa, 30 September 2025 | 09:56 WIB

Hobbit adalah pengecualian terhadap aturan bahwa manusia kuno yang lebih tua memiliki gigi bungsu dan otak yang lebih besar secara proporsional. (Image credit: JIM WATSON/AFP via Getty Images)
Hobbit adalah pengecualian terhadap aturan bahwa manusia kuno yang lebih tua memiliki gigi bungsu dan otak yang lebih besar secara proporsional. (Image credit: JIM WATSON/AFP via Getty Images)

RADARPAPUA - Para ilmuwan menemukan bahwa manusia purba jenis Homo floresiensis alias “Hobbit” mematikan pertumbuhan tubuhnya pada masa kanak-kanak sehingga ukurannya kecil dibanding manusia modern

Peneliti menggunakan data gigi dan otak dari 15 spesies fosil selama 5 juta tahun untuk mencari pola evolusi ukuran otak dan tubuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran gigi bungsu (wisdom teeth) pada Hobbit kecil secara proporsional terhadap gigi molar lainnya, sementara otaknya juga kecil, yang tidak biasa dibanding leluhur Homo lainnya. (Menurut Monson & Weitz)

Karena gigi berkembang sejak dalam janin (gestasi), perubahan pada periode ini memengaruhi ukuran gigi dan struktur gigi itu sendiri. (Menurut studi)

Namun Hobbit tampaknya memulai pertumbuhan normal di dalam rahim, dan perlambatan pertumbuhan terjadi setelah lahir, di masa kanak-kanak. (Menurut riset)

Itulah sebabnya bentuk tubuh dan ukuran kerangka mereka khususnya dipengaruhi oleh periode pertumbuhan pasca lahir. (Menurut Monson & Weitz)

Ukuran tubuh kecil ini mungkin sebagai adaptasi terhadap kondisi pulau Flores—terisolasi, sumber daya terbatas, dan predator besar sedikit.

Baca Juga: Pelabuhan Romawi Terendam di Maas: Penemuan Struktur Bawah Air Disiarkan Langsung

Fenomena berkembang kecil di pulau seperti ini dikenal dengan istilah insular nanism.

Dalam ekosistem pulau Flores, Hobbit hidup berdampingan dengan mamalia kecil dan hewan-hewan kerdil lainnya seperti gajah mini (Stegodon sondaarii).

Para Hobbit tetap menunjukkan kemampuan tinggi meskipun otaknya kecil, dengan membuat peralatan batu dan berburu hewan kecil.

Studi ini membuka kemungkinan bahwa manusia purba tidak selalu mengikuti tren otak makin besar dan tubuh makin besar sepanjang waktu.

Hipotesis populer dulu adalah evolusi manusia diarahkan oleh otak yang makin besar — namun Hobbit menunjukkan evolusi bisa berjalan berbeda.

Para peneliti menyarankan agar kita melihat perkembangan manusia tak hanya lewat ukuran otak, tapi juga pertumbuhan, lingkungan, dan budaya.

Hubungan antara ukuran gigi dan ukuran otak membuka cara baru menilai fosil yang hanya memiliki gigi sebagai bahan studi.

Karena gigi terdiri banyak bagian mineral, mereka lebih bertahan lama di fosil dibanding tulang lembut—jadi data dari gigi sangat penting dalam paleontologi.

Proses perlambatan pertumbuhan selama masa kanak-kanak bisa jadi dipicu oleh tekanan ekologis dan keterbatasan energi atau makanan pada pulau kecil.

Penelitian ini sudah dipublikasikan dalam jurnal antropologi dan biologi evolusi terbaru. (aak)

Editor : Richard Lawongan
#homo floresiensis #evolusi manusia #antropologi #insular nanism #manusia purba