RADARPAPUA - Dunia teknologi kembali dihebohkan dengan kabar lahirnya komputer kuantum pertama yang dibangun menggunakan chip silikon biasa.
Menurut Live Science, penemuan ini dianggap sebagai langkah besar karena selama ini komputer kuantum dibuat dengan material khusus yang sangat sulit diproduksi.
Komputer kuantum adalah jenis komputer yang bekerja dengan prinsip mekanika kuantum, bukan transistor biasa.
Dalam sistem ini, unit terkecil informasinya disebut qubit, berbeda dengan bit pada komputer tradisional.
Qubit mampu menyimpan nilai 0 dan 1 secara bersamaan melalui fenomena superposisi.
Dengan kemampuan ini, komputer kuantum bisa memproses data jauh lebih cepat dibandingkan komputer biasa.
Biasanya, membangun qubit membutuhkan material eksotis seperti atom tunggal atau superkonduktor yang harus dijaga dalam kondisi ekstrem.
Baca Juga: Apakah AI dan Manusia Akan Berperang? Sebuah Analisis Risiko
Namun kali ini, ilmuwan berhasil membuat qubit langsung dari chip silikon standar yang juga digunakan dalam smartphone.
Dilansir dari Live Science, terobosan ini bisa membuat produksi komputer kuantum jadi lebih murah dan mudah dikembangkan.
Jika komputer kuantum bisa diproduksi dengan chip biasa, maka skalanya bisa jauh lebih besar.
Para ahli menyebut teknologi ini dapat mempercepat perkembangan riset medis, keamanan data, hingga kecerdasan buatan.
Selain itu, komputer kuantum berbasis silikon bisa mengurangi tantangan teknis seperti pendinginan ekstrem.
Teknologi ini dianggap sebagai pintu menuju komputer kuantum yang lebih praktis dan efisien.
Menurut peneliti, komputer kuantum silikon tetap mampu melakukan perhitungan kompleks meski menggunakan bahan sederhana.
Mereka percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan, teknologi ini bisa masuk ke tahap komersial.
Dengan demikian, industri teknologi bisa lebih cepat mengadopsinya.
Komputer kuantum dengan chip biasa juga memberi harapan baru untuk integrasi dengan perangkat elektronik sehari-hari.
Hal ini bisa mempercepat terciptanya ekosistem kuantum global yang lebih inklusif.
Inovasi ini menjadi bukti bahwa masa depan komputasi kuantum kini semakin dekat. (aak)
Editor : Richard Lawongan