RADARPAPUA - OpenAI resmi merilis aplikasi terbaru bernama Sora, sebuah platform media sosial berbasis video AI. Aplikasi ini disebut sebagai langkah berani untuk menyaingi TikTok, YouTube, hingga Instagram dengan konsep video pendek yang sepenuhnya digerakkan kecerdasan buatan.
Melalui Sora, pengguna bisa membuat video diri mereka melakukan apa saja, dari gaya anime hingga visual super realistis. Peluncuran ini menandai upaya OpenAI menarik perhatian generasi muda yang terbiasa dengan banjir konten singkat dan menghibur.
Namun, kehadiran video AI ini juga memunculkan kekhawatiran soal banjir “AI slop”—konten buatan mesin yang berpotensi menggeser kreativitas manusia. Banyak ahli menilai fenomena ini bisa mengurangi keaslian informasi yang beredar di dunia maya.
Peluncuran resmi Sora bahkan menampilkan versi AI dari CEO OpenAI, Sam Altman, yang muncul di hutan psikedelik, bulan, hingga stadion penuh penonton. Konten ini memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik visual yang ditawarkan teknologi baru tersebut.
Persaingan di ranah video AI pun makin ketat. Meta baru saja meluncurkan fitur Vibes dalam aplikasi Meta AI, menampilkan video unik dari karakter kartun hingga fenomena absurd yang dirancang menarik perhatian pengguna.
Meski menghibur, para pakar menilai dominasi video AI bisa berbahaya jika membuat masyarakat kehilangan ruang untuk membedakan fakta dari rekayasa. “Kita butuh lingkungan informasi yang bisa dipercaya untuk membuat keputusan rasional,” kata Jose Marichal, profesor ilmu politik dari California Lutheran University.
OpenAI mencoba meredam kekhawatiran itu dengan menjanjikan fitur kontrol, termasuk polling kesejahteraan pengguna dan bias untuk menampilkan konten dari teman. Meski begitu, pertanyaan besar masih tersisa: akankah Sora jadi masa depan hiburan, atau justru ancaman bagi demokrasi digital?(aj)
Editor : Prisilia Rumengan