Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Lukisan Batu 200 Tahun di Afrika Selatan Tampilkan Makhluk Bertaring Misterius

Richard Lawongan • Jumat, 3 Oktober 2025 | 12:55 WIB

(image credit: Tim Boyle//Getty Images)
(image credit: Tim Boyle//Getty Images)

RADARPAPUA - Penemuan lukisan batu di Afrika Selatan memunculkan perdebatan baru tentang makhluk misterius dalam legenda San.

Gambar itu menampilkan sosok besar bertaring dengan bentuk yang tidak menyerupai hewan modern Afrika.

Para peneliti menyebut gambar ini sebagai bagian dari “Horned Serpent Panel”.

Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE, lukisan itu berasal dari tahun 1821–1835.

Fosil hewan purba dicynodont yang banyak ditemukan di Cekungan Karoo jadi petunjuk penting.

Dicynodont adalah reptil pemakan tumbuhan bertaring yang hidup sekitar 250 juta tahun lalu.

Ilmuwan menduga masyarakat San mungkin menemukan fosil hewan ini.

Baca Juga: Petani Neolitik Mulai Diversifikasi Gandum 7.000 Tahun Lalu

Mereka lalu memasukkannya ke dalam tradisi dan legenda.

Legenda San menceritakan tentang ular bertanduk yang kuat dan menakutkan.

Ular itu dipercaya bisa membantu manusia dalam upacara pemanggilan hujan.

Makhluk ini dianggap sebagai “rain-animal” atau hewan pemanggil hujan.

Menurut Julien Benoit dari University of the Witwatersrand, posisi taring yang menghadap ke bawah cocok dengan bentuk dicynodont.

Hal ini berbeda dari gajah atau hewan Afrika modern lain.

Masyarakat San dikenal memadukan dunia nyata dengan dunia spiritual.

Mereka menggambar hewan nyata maupun hewan dari legenda.

Dalam kasus ini, fosil purba bisa jadi menjadi inspirasi legenda.

Penemuan lukisan ini menunjukkan bahwa masyarakat San punya rasa ingin tahu pada fosil.

Beberapa peneliti menyebut fenomena ini sebagai “paleontologi pribumi”.

Walau masih ada perdebatan, bukti ini memberi gambaran menarik tentang cara manusia memahami lingkungan dan masa lalu.

Lukisan batu ini bisa jadi penghubung antara fosil purba, legenda rakyat, dan kehidupan budaya masyarakat San. (aak)

Editor : Richard Lawongan
#Afrika Selatan #arkeologi #Makhluk purba #budaya San #Lukisan batu