Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Mengapa Manusia Terobsesi dengan Ajang Olahraga Besar Sejak Zaman Kuno?

Prisilia Rumengan • Senin, 6 Oktober 2025 | 18:39 WIB

 

Penggambaran artistik lari cepat dengan baju zirah pada pertandingan Yunani kuno.
Penggambaran artistik lari cepat dengan baju zirah pada pertandingan Yunani kuno.

RADARPAPUA - Ribuan tahun sebelum stadion modern penuh sorak-sorai, manusia sudah terpesona oleh pertandingan olahraga. Isocrates, penulis Athena kuno, pernah mengeluh bahwa masyarakat lebih menghormati atlet daripada para pemikir. Tapi kenyataannya, pesona ajang olahraga sudah mendarah daging dalam budaya manusia sejak ribuan tahun lalu.

Sebelum munculnya Grand Final AFL atau NRL, dunia sudah mengenal kompetisi besar seperti Olimpiade kuno di Olympia. Catatan pertama dimulai pada 776 SM, meski diyakini ajang ini sudah ada jauh sebelumnya. Olimpiade bertahan lebih dari seribu tahun sebelum dihentikan oleh Kaisar Theodosius II pada abad ke-5 Masehi.

Namun, Olimpiade bukan satu-satunya pesta olahraga kala itu. Ada juga Pythian, Isthmian, dan Nemean Games—empat ajang utama yang disebut periodos atau siklus olahraga Yunani. Tiap kompetisi punya hadiah unik: mahkota daun zaitun, seledri, pinus, atau laurel. Meski sederhana, hadiah itu menjadi simbol kehormatan tertinggi bagi para pemenang.

Atlet yang berhasil menjuarai semua ajang dalam satu siklus disebut periodonikes, setara dengan peraih Grand Slam masa kini. Sosok seperti Ergoteles dari Himera bahkan dua kali meraih gelar bergengsi ini—prestasi yang membuatnya abadi dalam sejarah olahraga dunia kuno.

Namun bukan hanya atlet yang menikmati kejayaan. Penonton juga memainkan peran penting. Menurut orator Dio Chrysostom, orang-orang datang ke stadion bukan sekadar untuk menonton—mereka makan, minum, bersorak, dan larut dalam euforia. Philostratus menggambarkan penonton yang melompat, berteriak, bahkan berpelukan karena terlalu bahagia menyaksikan kemenangan idolanya.

Bagi orang Yunani, cabang olahraga seperti atletik dan pacuan kuda adalah puncak hiburan. Sedangkan di Roma, Kaisar Claudius bahkan menciptakan pertunjukan laut buatan dengan 19.000 kombatan di Danau Fucinus—sebuah tontonan berdarah yang disaksikan ribuan orang dari berbagai penjuru Italia.

Meski zaman berubah dan arena kini dipenuhi sorakan pendukung klub sepak bola atau rugby, esensinya tetap sama. Dari Yunani kuno hingga Australia modern, manusia selalu terikat oleh hasrat yang sama: merayakan kekuatan, ketangkasan, dan kemenangan di atas panggung olahraga.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#Olimpiade #Yunani #budaya kuno #grand final #sejarah