Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ritual Kuno di Shandong Ungkap Asal Usul Identitas Budaya Tiongkok Bersatu

Prisilia Rumengan • Selasa, 7 Oktober 2025 | 19:43 WIB

Penggalian salah satu platform, menunjukkan skalanya yang luar biasa, sehingga berguna untuk pertemuan komunal yang besar.
Penggalian salah satu platform, menunjukkan skalanya yang luar biasa, sehingga berguna untuk pertemuan komunal yang besar.

RADARPAPUA - Para arkeolog menemukan tiga struktur ritual berusia 3.000–2.400 tahun di Provinsi Shandong, Tiongkok. Penemuan ini mengungkap bahwa identitas budaya bersama bangsa Tiongkok sudah mulai terbentuk jauh sebelum penyatuan politik di bawah Kaisar Pertama, Qin Shi Huang. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Antiquity.

Selama ini, penyatuan Tiongkok sering dikaitkan dengan Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin pada 247 SM yang menyatukan sistem tulisan, ukuran, dan pemerintahan. Namun, penelitian baru ini menunjukkan bahwa akar penyatuan itu telah tumbuh ribuan tahun sebelumnya, melalui kegiatan ritual publik yang memperkuat rasa kebersamaan masyarakat.

Tim peneliti dari Universitas Shandong dan Field Museum of Natural History di AS meneliti situs Qianzhongzitou. Awalnya merupakan pemukiman biasa, situs ini perlahan berubah menjadi pusat ritual suci, menawarkan jejak bagaimana upacara dan perjamuan besar menjadi sarana penting pembentukan identitas kolektif.

Ekskavasi menemukan tiga platform ritual dari periode Zhou Barat (1046–771 SM) dan Negara-Negara Berperang (475–221 SM). Platform ini dibuat dengan lapisan tanah berwarna berbeda dan di salah satunya ditemukan inskripsi karakter 土 (tu) yang berarti “tanah” — menandakan adanya ritual pemujaan bumi.

Sisa makanan dan wadah masak yang ditemukan menunjukkan bahwa perjamuan besar sering diadakan di lokasi ini. Menurut Dr. Qingzhu Wang dari Universitas Shandong, tujuan utama ritual ini adalah menyatukan masyarakat yang beragam melalui pengalaman spiritual bersama, sehingga menciptakan rasa identitas kolektif baru.

Menariknya, penelitian ini menyoroti pendekatan “bottom-up” — bahwa ekspansi negara kuno tidak hanya terjadi lewat perang atau politik, tetapi juga melalui ritual bersama yang menyatukan kepercayaan lokal menjadi sistem keagamaan resmi.

Temuan di Qianzhongzitou menunjukkan bahwa jauh sebelum Kaisar Pertama, ritual publik telah menjadi alat integrasi sosial. Melalui upacara dan jamuan besar di atas platform megah, para elit masa lalu berhasil menyatukan masyarakat yang berbeda budaya menjadi satu kesatuan — fondasi bagi lahirnya Tiongkok yang bersatu.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#Tiongkok #Ritual #budaya #arkeologi #sejarah