RADARPAPUA - Para peneliti di Spanyol menemukan sebuah sandal rumput (esparto grass shoe) berusia sekitar 750 tahun di dalam sarang burung nasar jenis bearded vulture.
Penemuan ini terjadi saat tim menyelidiki sarang di tebing di bagian selatan Spanyol di gua tebing yang lembapnya rendah dan suhunya stabil.
Sarang burung nasar itu reuse (digunakan ulang) selama generasi, sehingga menumpuk berbagai bahan — tulang, wol, ranting — yang melindungi benda organik dari kerusakan.
Sekitar 9% isi dari 12 sarang yang diteliti adalah benda buatan manusia: fragmen kain, kulit, serta objek dari rumput esparto.
Salah satu temuan paling mencolok yaitu sebuah sandal anyaman rumput esparto dalam kondisi nyaris utuh.
Menurut Livescience, karbon dating menunjukkan sandal tersebut dibuat pada zaman pertengahan, sekitar abad ke-13.
Selain sandal rumput itu, tim juga menemukan fragmen kulit domba yang dicat dengan oker merah dan benda lain.
Para peneliti menduga burung nasar mengambil benda-benda ini dari situs manusia masa itu, bukan dari penggalian arkeologi modern.
Baca Juga: Ritual Kuno di Shandong Ungkap Asal Usul Identitas Budaya Tiongkok Bersatu
Sarang gua dengan kelembapan sangat rendah dan suhu stabil memungkinkan bahan organik bertahan lama — seperti sandal dan kain — tanpa cepat lapuk.
Burung Gypaetus barbatus (bearded vulture) kini sudah punah secara lokal di selatan Spanyol, namun dulu mereka membangun sarang bertingkat selama berabad.
Sarang-sarang ini menjadi kapal waktu alami (natural time capsules) yang menyimpan catatan masa lalu manusia dan lingkungan.
Dalam analisis lebih lanjut, para peneliti akan mengidentifikasi semua benda — organik dan buatan manusia — serta menanggal lapisan-lapisan sarang menurut stratum.
Dengan cara ini, mereka bisa merekonstruksi urutan waktu aktivitas manusia dan hewan di kawasan tersebut.
Penemuan sandal rumput ini memperlihatkan bahwa benda sederhana sekali pun bisa memberi petunjuk besar soal kehidupan masa lampau.
Sandal jenis esparto tidak asing di Spanyol — bahan ini digunakan untuk kerajinan, keranjang, dan alas kaki sederhana di masa lalu.
Temuan semacam ini juga memperkaya bidang arkeologi ekologis, yaitu studi pertemuan antara jejak manusia dan ekosistem.
Sarang burung menjadi arsip alam yang tanpa sengaja didirikan, menggabungkan sejarah manusia dengan siklus kehidupan alam.
Penemuan ini mengingatkan kita bahwa banyak benda masa lalu bisa tersembunyi di tempat tak terduga.
Studi seperti ini mendorong kolaborasi antara biolog, arkeolog, dan ahli konservasi.
Ketika kondisi alam tepat — lembap rendah, suhu stabil — bahan organik tahan lama dan informasi sejarah bisa terjaga.
Yang tampak seperti sarang burung sederhana kini terbukti menyimpan harta budaya tak terduga. (aak)
Editor : Richard Lawongan