Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Jejak Mengerikan: AI Ungkap Manusia Purba Jadi Santapan Macan Tutul di Afrika Timur

Richard Lawongan • Rabu, 8 Oktober 2025 | 10:48 WIB

Tulang rahang milik seorang individu Homo Habilis remaja yang memiliki dua tanda gigi karnivora, yang didokumentasikan oleh para peneliti.  (Image credit: Vegara-Riquelme et al., )
Tulang rahang milik seorang individu Homo Habilis remaja yang memiliki dua tanda gigi karnivora, yang didokumentasikan oleh para peneliti. (Image credit: Vegara-Riquelme et al., )

RADARPAPUA - Hampir dua juta tahun lalu, para peneliti menemukan bahwa manusia purba spesies Homo habilis ternyata pernah dimangsa oleh macan tutul di Afrika Timur.

Temuan ini didukung oleh analisis kecerdasan buatan (AI) yang meneliti bekas gigitan pada fosil rahang manusia purba tersebut.

AI digunakan untuk mengidentifikasi pola gigitan dan hasilnya menunjukkan kesamaan yang sangat tinggi dengan macan tutul modern.

Para ilmuwan menganalisis dua fosil manusia purba, satu dewasa dan satu anak-anak, yang ditemukan di situs Olduvai Gorge, Tanzania.

Fosil tersebut berusia antara 1,8 hingga 1,85 juta tahun.

Penelitian ini menunjukkan bahwa Homo habilis tidak hanya pemburu, tetapi juga menjadi mangsa bagi hewan besar di masanya.

Macan tutul kemungkinan menyerang mereka secara diam-diam, seperti perilaku yang masih terlihat pada spesies modern saat ini.

Baca Juga: Wajah Tiga Mata Dari Zaman Dulu: Misteri Patung Corleck Head dan Ritual Kuno di Irlandia

Menurut peneliti Manuel Domínguez-Rodrigo, teknologi AI membuka “pintu baru dalam memahami bagaimana manusia purba hidup dan mati.”

Dengan melatih sistem penglihatan komputer, AI mempelajari pola bekas gigitan dari berbagai hewan pemangsa.

Hasilnya, tingkat akurasi pengenalan mencapai lebih dari 90 persen.

Ini menjadi bukti paling kuat bahwa macan tutul adalah pemangsa utama Homo habilis.

Luka gigitan ditemukan pada bagian rahang atas individu dewasa dan rahang bawah individu muda.

Temuan ini memperkuat teori bahwa manusia purba kala itu masih menjadi bagian dari rantai makanan, bukan penguasanya.

Peneliti juga menduga bahwa macan tutul memanfaatkan waktu malam untuk memangsa manusia yang belum memiliki senjata canggih.

Fakta ini menggambarkan kehidupan keras di Afrika Timur jutaan tahun lalu.

Selain itu, studi ini juga membantu ilmuwan memahami hubungan antara predator dan manusia di masa awal evolusi.

Teknologi AI kini menjadi alat penting dalam bidang arkeologi dan paleoantropologi.

Dengan kemampuan analisis yang cepat dan akurat, AI bisa mengungkap rahasia masa lalu yang sulit ditemukan lewat cara tradisional.

Penemuan ini sekaligus memperingatkan kita bahwa nenek moyang manusia pernah hidup berdampingan dengan bahaya yang mematikan. (aak)

Editor : Richard Lawongan
#AIResearch #HomoHabilis #arkeologi #AfrikaTimur #MacanTutul