RADARPAPUA - Di tengah dominasi Spotify, Apple Music, YouTube dan Amazon, tiba-tiba Coda Music muncul sebagai penantang baru. Berbasis pada kritik publik terhadap Daniel Ek, layanan ini memosisikan diri sebagai alternatif etis: tidak berinvestasi pada teknologi perang dan lebih pro-artis.
Kini, Coda kembali mengambil kesempatan dari kontroversi Spotify lainnya: banjir lagu “AI slop”. Mereka meluncurkan alat identifikasi AI untuk mengenali dan menandai musik yang tidak dibuat oleh manusia.
Pendekatannya berlapis. Semua artis yang masuk akan ditinjau apakah berasal dari AI; jika ya, langsung diberi label “AI Artist”. Pengguna juga dapat menandai artis yang dicurigai memakai AI, dan tim Coda akan melakukan verifikasi.
Ada pula fitur saklar sederhana: “Hide AI Artists”. Jika diaktifkan, aplikasi otomatis menyembunyikan seluruh musik AI (sejauh kemampuan deteksi mereka). Bagi pendengar yang ingin menghindari musik generatif, fitur ini jelas menggoda.
Selain isu AI dan etika investasi, Coda menawarkan pembayaran per-stream yang diklaim tertinggi di industri. Meski begitu, mereka mengakui masalah sebenarnya adalah model bisnis streaming itu sendiri — sehingga pengguna bisa memilih satu artis independen untuk menerima tambahan $1 tiap bulan.
Coda juga ingin menjadi ruang sosial bagi pecinta musik. Pengguna bisa berbagi lagu, foto konser, hingga tautan eksternal dalam feed sosial. Artis pun didorong ikut berinteraksi, bukan sekadar mempublikasikan rilisan.
Fitur sosial ini bisa menjadi pembeda utama, meski tantangannya besar: meyakinkan orang berpindah dari platform yang sudah mapan. Namun dengan komunitas musik yang dikenal sangat antusias, peluang tetap terbuka.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan