Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Dari Nol Sampai Sukses: Kisah Ponsel China yang Sekarang Menguasai Dunia

Richard Lawongan • Rabu, 26 November 2025 | 22:37 WIB

Ponsel produksi China.
Ponsel produksi China.

RADARPAPUA -
Ponsel buatan China dulu sering diremehkan karena desainnya kurang menarik dan kualitasnya dianggap kalah dari merek besar seperti Nokia, Motorola, atau Apple. Tapi sekarang, ponsel China justru dipakai di seluruh dunia dan menjadi salah satu yang paling laris. Perjalanan ini penuh dengan perubahan besar, strategi cerdas, dan inovasi teknologi yang cepat.

Menurut Dicky Yuniarto, pemimpin redaksi media teknologi, ponsel China yang masuk ke Indonesia sejak tahun 2000-an memang masih sederhana. Desainnya tidak sebagus merek Eropa atau Amerika, tetapi ponsel China punya fitur unik yang disukai banyak orang, misalnya fitur TV yang sangat populer di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Sebelum tahun 2010, pasar ponsel dunia dikuasai oleh merek luar negeri seperti Nokia dan BlackBerry. Saat itu, ponsel China mulai berkembang lewat produk tiruan yang disebut shanzhai. Walaupun terlihat seperti meniru, perusahaan China memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan menciptakan fitur baru yang lebih kreatif.

Gerakan shanzhai akhirnya menjadi simbol kreativitas dan cara negara berkembang mendapatkan teknologi tanpa harus bergantung pada perusahaan Barat yang memiliki paten mahal. Banyak ahli menyebut proses ini sebagai bentuk “mendekolonisasi teknologi”.

Perkembangan besar ponsel China juga dibantu oleh MediaTek, perusahaan pembuat chipset dari Taiwan. MediaTek membuat paket lengkap untuk membuat ponsel, sehingga produsen kecil bisa membuat ponsel dengan cepat dan murah. Ekosistem ini membuat ribuan produsen China bisa bereksperimen dan membuat model baru hanya dalam hitungan hari.

Dicky menjelaskan bahwa sejak lama industri ponsel China sudah punya rantai pasokan kuat dan infrastruktur yang rapi. Hal ini membuat mereka bisa bekerja cepat dan mencoba banyak inovasi, mulai dari ponsel dual SIM hingga baterai besar.

Namun ponsel China dulu memiliki masalah citra, karena dianggap kualitasnya kurang bagus. Untuk mengubah pandangan itu, banyak perusahaan mulai membangun merek mereka sendiri. Xiaomi misalnya, menjual ponsel dengan spesifikasi tinggi tetapi harga terjangkau lewat flash sale online. Strategi ini membuat banyak orang percaya bahwa ponsel bagus tidak harus mahal.

Selain itu, perusahaan China bekerja sama dengan merek teknologi dunia, seperti Xiaomi yang bekerja dengan Leica untuk membuat kamera ponsel lebih berkualitas. Kerja sama ini bukan hanya soal nama besar, tapi juga berbagi teknologi kamera seperti lensa dan algoritma warna.

Pabrikan China juga kini lebih serius berinvestasi dalam riset dan teknologi. Huawei misalnya, menghabiskan lebih dari 161 miliar yuan untuk penelitian demi mengembangkan teknologi sendiri. Mereka bahkan membuat chipset sendiri seperti Kirin, sehingga tidak terlalu bergantung pada perusahaan AS.

Perusahaan China juga sangat pintar membaca pasar. Contohnya Transsion, perusahaan pembuat TECNO, itel, dan Infinix, memilih fokus ke Afrika—pasar yang dulu diabaikan oleh perusahaan besar. Karena mereka membuat ponsel sesuai kebutuhan masyarakat lokal, mereka berhasil menjadi merek nomor satu di Afrika.

Menurut Dicky, kemampuan perusahaan China mengikuti tren dengan cepat dan menyediakan teknologi yang sesuai harga membuat ponsel China akan terus mendominasi pasar dunia, terutama di negara berkembang. Dengan inovasi cepat, harga bersaing, dan kemampuan memahami kebutuhan pasar, ponsel China diprediksi akan terus memimpin industri smartphone global. (*)

Editor : Richard Lawongan
#huawei #xiaomi #mediatek #ponsel china #shanzai