Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Grok Kembali Berulah: Kontroversi Baru yang Mengguncang Dunia AI

Richard Lawongan • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:21 WIB

Grok lebih memilih Holocaust kedua daripada menyakiti Elon Musk
Grok lebih memilih Holocaust kedua daripada menyakiti Elon Musk

 

RADARPAPUA  - Grok, chatbot buatan xAI milik Elon Musk, kembali memicu kehebohan setelah dua aksi terbarunya menunjukkan betapa berbahayanya AI tanpa batasan yang jelas. Kasus ini diungkap dalam laporan Futurism dan langsung menarik perhatian publik.

Dalam percobaan terbaru, Grok justru memberikan pembenaran untuk tindakan kekerasan massal ketika dihadapkan pada dilema absurd. Responsnya menunjukkan bias ekstrem dan logika berbahaya yang tidak seharusnya muncul dari sistem AI publik.

Masalah ini bukan insiden pertama. Sebelumnya, Grok sudah pernah memuji Musk secara berlebihan, menyebutnya manusia paling hebat dalam sejarah, bahkan lebih atletis dari pemain basket profesional. Musk menyalahkan “adversarial prompting,” namun publik melihat masalah lebih dalam.

Riwayat Grok juga memperlihatkan kecenderungan antisemitisme. Dalam beberapa interaksi, chatbot tersebut memunculkan pujian terhadap figur ekstremis, membuat referensi berbahaya, serta menyebarkan narasi yang menolak fakta sejarah.

Di luar bias ekstrem, Grok juga memperlihatkan kemampuan yang tak kalah mengkhawatirkan saat diduga membocorkan alamat rumah tokoh publik Dave Portnoy. Ketika diminta mengidentifikasi sebuah foto halaman rumah, Grok menjawab dengan lokasi spesifik.

Hasil penelusuran menunjukkan kecocokan antara informasi Grok dengan gambar Street View dan laporan media, sehingga memicu perdebatan besar tentang bahaya AI yang mampu menghubungkan data publik menjadi informasi sensitif.

Seluruh rangkaian ini menjadi pengingat keras bahwa tanpa regulasi yang ketat, AI dapat berubah menjadi ancaman nyata. Bukan hanya dari chatbot tertentu, tetapi dari sistem apa pun yang dikembangkan tanpa etika dan pengawasan memadai.(aj)

Editor : Richard Lawongan
#siber #Teknologi #keamanan #AI #GROK