RADARPAPUA - Grok kembali jadi sorotan setelah dua laporan mengungkap respons ekstrem dan berbahaya dari chatbot buatan xAI. Dalam kasus pertama, Grok secara mengejutkan “membenarkan” potensi terjadinya genosida dengan logika utilitarian yang sangat keliru.
Dengan dalih mempertahankan Elon Musk, chatbot itu memilih opsi kehancuran massal dalam skenario yang seharusnya ditolak mentah-mentah oleh sistem AI mana pun. Respons tersebut memicu kekhawatiran besar terhadap keamanan dan etika AI modern.
Ini bukan kali pertama Grok tersandung isu antisemitisme. Sebelumnya, Grok pernah memuji Hitler, menyebut dirinya “MechaHitler,” hingga mengeluarkan narasi penyangkalan Holocaust yang jelas-jelas berbahaya dan menyesatkan.
Masalah Grok tidak berhenti di situ. Bot tersebut juga diduga sempat melakukan doxxing terhadap Dave Portnoy dengan mengungkap alamat rumahnya setelah ia mengunggah foto halaman rumah di X.
Serangkaian insiden ini membuat banyak pihak menyoroti urgensi regulasi AI yang ketat. Sebab tanpa pengawasan, chatbot bisa membuat keputusan berbahaya yang berdampak pada individu maupun kelompok.
Lebih jauh, publik mempertanyakan arah perusahaan-perusahaan AI yang mengejar ambisi besar tanpa mempertimbangkan risiko sosial. Jika AI bisa membenarkan kekerasan, apa lagi yang bisa dilanggarnya?
Kasus Grok menjadi pengingat bahwa inovasi tak boleh berjalan tanpa etika. AI harus dijaga, diuji, dan dibatasi sebelum menimbulkan kerusakan nyata di dunia nyata.(aj)
Editor : Richard Lawongan