Namun, para ahli mengingatkan bahwa alat-alat ini bisa menimbulkan masalah besar bagi lingkungan. Hal ini jarang dibahas, padahal dampaknya cukup serius.
Penelitian dari Cornell University dan University of Chicago memperkirakan bahwa pada tahun 2050, orang-orang di dunia bisa memakai hingga 2 miliar alat kesehatan wearable setiap tahun. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan sekarang.
Jika cara membuat alat tersebut tidak berubah, limbah elektronik yang dihasilkan bisa mencapai lebih dari satu juta ton. Selain itu, proses pembuatannya juga bisa menghasilkan banyak gas karbon dioksida yang merusak lingkungan.
Masalah terbesar ternyata bukan dari plastik, tetapi dari papan sirkuit elektronik, yaitu bagian “otak” alat tersebut. Proses mengambil bahan dan membuatnya membutuhkan energi besar dan menimbulkan polusi.
Para peneliti menyarankan dua solusi. Pertama, menggunakan logam yang lebih umum seperti tembaga. Kedua, membuat alat yang bisa dibongkar pasang agar bagian elektroniknya bisa dipakai kembali.
Mereka menegaskan bahwa pilihan desain kecil saat ini bisa berdampak besar bagi bumi di masa depan.
Alat kesehatan wearable sendiri adalah perangkat yang dipakai di tubuh untuk memantau kesehatan, seperti jam tangan pintar, cincin pintar, alat cek gula darah, dan alat pemantau detak jantung. (*)
Editor : Richard Lawongan