Geger! 153 Juta Data SIM Bocor di Dark Web, Termasuk SIM Menhan AS dan Jurnalis

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 08:41 WIB
Ilustrasi seorang pengemudi menyerahkan SIM ke polisi. (Pexels/Kindel Media)
Ilustrasi seorang pengemudi menyerahkan SIM ke polisi. (Pexels/Kindel Media)

 

RADARPAPUA - Kebocoran data dalam jumlah besar kembali menjadi sorotan setelah lebih dari 153 juta hasil pindai surat izin mengemudi (SIM) milik warga Amerika Serikat (AS) dan Kanada diduga tersebar di dark web. 

Dokumen identitas tersebut bahkan disebut sempat ditawarkan untuk diperjualbelikan melalui sebuah layanan yang menyediakan berbagai data pribadi.

Seperti dilansir dari Engadget, salah satu orang yang terdampak dalam insiden tersebut adalah jurnalis keamanan siber Brian Krebs.

Ia mengetahui adanya basis data tersebut setelah mendapat informasi bahwa hasil pindai kartu identitas miliknya digunakan sebagai contoh gratis untuk mempromosikan sebuah layanan bernama Nexus.

Krebs kemudian melakukan komunikasi langsung dengan pihak yang menawarkan data tersebut untuk memastikan apakah dokumen yang diperjualbelikan benar-benar berasal dari korban. Dalam proses tersebut, pelaku menunjukkan hasil pindai SIM milik Krebs.

Keaslian data itu juga diperkuat oleh korban lain yang mengaku bahwa dokumen yang ditawarkan memang merupakan informasi identitas mereka yang sebenarnya.

Basis data tersebut tidak hanya berisi hasil pindai SIM. Di dalamnya juga diduga terdapat sejumlah dokumen pribadi lainnya, termasuk kartu medis, catatan pekerjaan, serta kartu identitas penduduk.

Yang membuat kasus ini semakin serius, para pelaku juga sempat menunjukkan kepada Krebs hasil pindai SIM milik Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Kemunculan dokumen milik pejabat tinggi pemerintah AS tersebut menambah kekhawatiran mengenai luasnya akses pelaku terhadap informasi identitas pribadi.

Data identitas dalam jumlah besar seperti ini dapat menimbulkan risiko serius karena berpotensi digunakan untuk berbagai bentuk penipuan identitas, pemalsuan dokumen, maupun aktivitas kejahatan siber lainnya.

Kasus tersebut kini turut menjadi perhatian aparat penegak hukum AS. Biro Investigasi Federal AS (FBI) disebut telah memulai penyelidikan untuk mengungkap sumber kebocoran serta pihak yang bertanggung jawab.

Dugaan Kebocoran Berasal dari Penyedia Layanan Pihak Ketiga

Brian Krebs menduga kebocoran tersebut berkaitan dengan IDScan, sebuah perusahaan yang menyediakan layanan verifikasi identitas dan berbasis di Louisiana.

Dugaan itu muncul setelah ditemukan kesamaan di antara sejumlah korban. Banyak orang yang datanya muncul dalam basis data tersebut diketahui pernah menyewa kendaraan dari Hertz. Perusahaan rental tersebut menggunakan layanan IDScan dalam proses verifikasi identitas pelanggan.

IDScan diketahui tidak hanya bekerja sama dengan Hertz. Perusahaan tersebut juga memiliki sejumlah klien lain, di antaranya Target, FedEx, Motorola, dan Jack Henry.

Meski demikian, Target telah membantah keterlibatan maupun dampak terhadap data pelanggannya. Kepada Engadget, Target menyatakan bahwa pihaknya tidak mengirimkan data pelanggan kepada IDScan. Karena itu, informasi pelanggan Target disebut tidak terdampak dalam dugaan serangan tersebut.

Penyelidikan FBI dilakukan oleh kantor cabang FBI di New Orleans. Lokasi tersebut menjadi perhatian karena berada di Louisiana, wilayah yang juga menjadi basis perusahaan IDScan.

Kondisi ini dinilai semakin memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut mungkin berkaitan dengan penyedia layanan verifikasi identitas tersebut, meski penyelidikan masih berlangsung.

Nexus Pernah Menawarkan Data sebagai Sampel Gratis

Sebelum akhirnya ditutup, layanan Nexus diketahui pernah dipromosikan melalui forum kejahatan siber Rusia Exploit.

Dalam promosi tersebut, pelaku menggunakan hasil pindai SIM milik Brian Krebs sebagai sampel gratis. Cara ini diduga digunakan untuk menunjukkan kepada calon pelanggan bahwa Nexus memiliki akses terhadap dokumen identitas asli dalam jumlah besar.

Krebs sendiri dapat memastikan bahwa data yang ditawarkan bukan sekadar informasi palsu karena pelaku mampu menunjukkan hasil pindai SIM miliknya. Korban lain juga memberikan konfirmasi serupa mengenai keaslian dokumen mereka.

Saat ini, Nexus sudah tidak beroperasi. Halaman masuk layanan tersebut menampilkan pemberitahuan bahwa platform telah ditutup dan tidak lagi dapat digunakan.

Namun, penutupan Nexus tidak otomatis menghapus seluruh risiko dari kebocoran tersebut. Data yang sebelumnya telah diperoleh pelaku berpotensi sudah disalin, disimpan, atau didistribusikan ke tempat lain sebelum layanan tersebut ditutup.

Dengan demikian, dokumen pribadi yang sempat berada di tangan pelaku masih memungkinkan beredar melalui forum, jaringan, maupun pasar gelap siber lainnya.

Bukan Kali Pertama Data Identitas Terekspos

Kebocoran informasi identitas melalui penyedia layanan pihak ketiga bukan merupakan kejadian yang sepenuhnya baru. Kasus serupa sebelumnya juga pernah dialami Discord setelah salah satu penyedia layanan pihak ketiganya mengalami peretasan.

Dalam insiden tersebut, lebih dari 70.000 kartu identitas pemerintah dilaporkan terekspos.

Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa keamanan data tidak hanya bergantung pada perusahaan atau organisasi yang secara langsung mengumpulkan informasi pribadi. Ketika data diteruskan kepada perusahaan lain untuk kebutuhan verifikasi, penyimpanan, atau pemrosesan, muncul lapisan risiko tambahan.

Kasus dugaan kebocoran lebih dari 153 juta hasil pindai SIM ini sekaligus memperlihatkan besarnya dampak yang dapat terjadi ketika informasi identitas dalam jumlah sangat besar jatuh ke tangan pelaku kejahatan siber.

Bahkan setelah platform yang menjualnya ditutup, data yang sudah sempat diambil tetap berpotensi menyebar dan digunakan untuk berbagai tindak kejahatan.

Editor : Tina Mamangkey
data sim bocor Jurnalis Dark Web Amerika Serikat Menhan AS