RADARPAPUA - Kementerian Agama (Kemenag) telah memperkirakan kemungkinan adanya perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan 1445 H atau 2024 M.
Menurut Surat Edaran Agama RI Nomor 1 Tahun 2024, yang dikeluarkan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, umat Islam dihimbau untuk tetap menjaga persaudaraan dan toleransi dalam menghadapi perbedaan penetapan 1 Ramadhan 1445 H atau 2024 M.
Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH Sirril Wafa, menekankan pentingnya saling menghormati dalam pelaksanaan ibadah, terutama selama bulan suci Ramadhan.
Ia menyoroti bahwa setiap tahun masyarakat Muslim Indonesia menghadapi potensi perbedaan dalam pelaksanaan ibadah terutama terkait awal dan akhir Ramadhan.
"Pengalaman berpuluh-puluh tahun menunjukkan bahwa perbedaan dalam masalah cabang adalah hal yang dimungkinkan. Maka, upaya saling memahami harus ditingkatkan," ujar Kiai Sirril kepada NU Online.
Ia menekankan bahwa para tokoh agama dan umat Islam secara keseluruhan perlu meredam sentimen saling menyalahkan dalam pelaksanaan ibadah, terutama puasa Ramadhan yang akan segera tiba.
Ia juga menyadari bahwa fenomena saling mengolok-olok dalam pelaksanaan ibadah sering muncul di media sosial dan dapat memiliki dampak yang berkepanjangan.
Tokoh agama dan umat Muslim secara keseluruhan diharapkan dapat menjaga toleransi dan penghormatan dalam menghadapi perbedaan pelaksanaan ibadah.
Data perhitungan falak LF PBNU menunjukkan bahwa hilal 29 Sya'ban 1445 H bertepatan dengan Ahad Legi, 10 Maret 2024 M, dengan tinggi hilal 0 derajat 11 menit 25 detik.
Sementara itu, konjungsi terjadi pada Ahad Legi, 10 Maret 2024 M, pukul 16:00:50 WIB di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Letak matahari terbenam pada posisi 3 derajat 55 menit 36 detik selatan titik barat, sedangkan letak hilal pada posisi 5 derajat 7 menit 23 detik selatan titik barat.
Kedudukan hilal berada pada 1 derajat 11 menit 27 detik selatan matahari dalam keadaan miring ke selatan dengan elongasi 2 derajat 30 menit 25 detik.(jpg)
Editor : Tina Mamangkey