Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Sosok Andi Angga Prasadewa, Relawan Tangguh Papua yang Ditangkap Militer Israel

Tina Mamangkey • Rabu, 20 Mei 2026 | 06:30 WIB
Rombongan kapal Global Sumud Flotilla di perairan Siprus, Mediterania Timur. (Dok/Thoudy Badai/Republika)
Rombongan kapal Global Sumud Flotilla di perairan Siprus, Mediterania Timur. (Dok/Thoudy Badai/Republika)

 

RADARPAPUA - Misi kemanusiaan internasional yang membawa bantuan menuju wilayah konflik Gaza mendadak menjadi sorotan setelah salah satu relawan asal Indonesia, Andi Angga Prasadewa, dilaporkan hilang kontak usai kapal yang ditumpanginya dicegat militer Israel Defense Forces (IDF) di perairan Siprus, Mediterania Timur. Angga diketahui tergabung dalam misi kemanusiaan global Global Sumud Flotilla (GSF) 2026.

Sebelum komunikasi terputus, Angga sempat memberikan kabar mengenai kondisi mencekam yang dialami rombongan relawan saat kapal mereka mulai dikepung drone pengintai militer Israel.

Relawan Senior dengan Pengalaman Panjang di Papua

Keikutsertaan Angga dalam misi kemanusiaan berisiko tinggi tersebut bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai relawan senior di Rumah Zakat yang telah aktif selama lebih dari satu dekade dalam berbagai aksi kemanusiaan di Indonesia, termasuk di wilayah Papua.

CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, menyebut Angga sebagai sosok pekerja keras yang memiliki pengalaman panjang di dunia kerelawanan.

"Ya, jadi ini luar biasa, memang orangnya humoris gitu ya, tapi juga disiplin ya, dan memang memulai aktivitas dari ikut kerelawanan dari mulai dari dasar gitu ya sampai sekarang.Kurang lebih ada 12 tahun terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan di Rumah Zakat," ujar Irvan kepada JawaPos.com, Selasa (19/5).

Sebelum berangkat menuju wilayah konflik menggunakan Kapal Josef dari Turki pada Kamis (14/5), Angga diketahui aktif memimpin berbagai gerakan relawan di Papua. Ia juga terlibat langsung dalam penanganan bencana dan respons darurat di sejumlah daerah seperti Aceh dan Sumatera Barat.

Situasi Mencekam Saat Dikepung Drone Israel

Misi kemanusiaan yang diikuti Angga sebenarnya dipantau secara langsung melalui sistem CCTV yang terhubung dengan pusat komando di Istanbul dan Kuala Lumpur. Namun situasi mulai berubah saat kapal mendekati wilayah perairan konflik antara Siprus dan Gaza.

Menurut Irvan, Angga sempat melaporkan kemunculan sejumlah drone militer Israel yang terbang rendah mengitari armada mereka.

"Nah, memang pada saat sudah melalui mendekati dari perairan Siprus, di antara Siprus dan Gaza tuh sudah mulai tuh, ya misalnya ada drone dan satu macam, gitu ya, berkabar. Jadi seperti itu update kondisinya," ungkap Irvan.

Ia menambahkan laporan mengenai pengepungan drone itu menjadi komunikasi terakhir sebelum kondisi semakin memburuk.

"Ya, sempat ngasih kabar gitu ya, udah mulai dikelilingi (drone), kayak gitu ya. Dan segala macam, begitu. Jadi kan memang di setiap kapal ada kita pasang, gitu ya, apa namanya, CCTV. Ya, jadi itu command center bisa mengetahui gitu ya, perkembangan kapal di mana posisinya, terus kondisinya bagaimana di kapal itu. Itu bisa terlihat dari CCTV yang dipasang, kan gitu," lanjutnya.

SOS Muncul, Kontak dengan Relawan Terputus

Kekhawatiran tim pemantau akhirnya menjadi kenyataan setelah sistem darurat atau SOS dari kapal aktif. Berdasarkan alat pelacak, Kapal Josef diduga dihentikan secara paksa oleh militer Israel sebelum seluruh komunikasi terputus.

"Sampai kemarin sore, ya kemarin itu berarti jam 3 sore ya, mendapatkan kabar ada SOS alert ya. Dan akhirnya setelah itu udah hilang," katanya.

"Sebelumnya masih bisa ngasih kabar posisi kita selalu tanya kabarnya bagaimana, masih berhubungan, ya. Lihat itu, ya," sambung Irvan.

Pemerintah Indonesia Kecam Penahanan Relawan

Penahanan para relawan kemanusiaan tersebut mendapat respons keras dari pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengecam tindakan militer Israel yang mencegat kapal dan menahan relawan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional itu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, menyebut terdapat lima WNI yang ditahan dari total sembilan anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Selain Andi Angga Prasadewa, empat WNI lain yang turut ditahan yakni Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, dan Bambang Noroyono atau Abeng.

"Kementerian Luar Negeri mengutuk keras tindakan militer Israel yang mencegat sejumlah kapal dan menangkap relawan WNI yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Summit Flotilla atau GSF 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," tegas Yvonne Mewengkang.

Saat ini pemerintah Indonesia melalui jaringan kedutaan besar terus melakukan langkah diplomatik dan hukum, termasuk menyiapkan dokumen perjalanan darurat serta membangun dukungan internasional guna menekan Israel agar para relawan segera dibebaskan. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#Aktivis Kemanusiaan diculik #Aktivis kemanusiaan ditangkap Israel #Andi Angga Prasadewa #Global Sumud Flotilla #Relawan Tangguh Papua