Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ikan Lokal Tersingkir Limbah, Ikan Sapu-Sapu Berpesta Tanpa Kompetitor

Tina Mamangkey • Rabu, 20 Mei 2026 | 08:31 WIB
Petugas gabungan kembali menangkap ikan sapu-sapu di Pintu Air Setu Babakan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/4). (ANTARA/Luthfia Miranda Putri)
Petugas gabungan kembali menangkap ikan sapu-sapu di Pintu Air Setu Babakan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/4). (ANTARA/Luthfia Miranda Putri)

 

RADARPAPUA - Kerusakan lingkungan sering kali melahirkan kambing hitam baru. Ketika sungai berubah keruh, ekosistem terganggu, dan ikan-ikan lokal mulai menghilang, perhatian publik justru kerap tertuju pada satu spesies yang dianggap “pengganggu”, yakni ikan sapu-sapu. 

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, kemunculan ikan tersebut justru menjadi cerminan dari kondisi lingkungan yang sudah lama mengalami kerusakan akibat ulah manusia sendiri.

Filsuf klasik Al-Ghazali pernah menggambarkan manusia sebagai al-insanu hayawanun nathiq, makhluk hidup yang memiliki kemampuan berpikir dan bertutur.

Manusia memang bagian dari alam biologis, tetapi dibedakan oleh akal yang memungkinkannya memahami sebab-akibat, mempertimbangkan tindakan, hingga bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Pemikiran itu sejatinya bukan sekadar konsep filsafat, melainkan pengingat moral bahwa akal manusia seharusnya dipakai untuk menjaga keseimbangan alam, bukan malah merusaknya.

Dengan akal, manusia mampu mengantisipasi dampak dari tindakannya, merawat lingkungan, sekaligus memperbaiki kerusakan yang terjadi.

Namun realitas sering menunjukkan hal sebaliknya. Saat lingkungan rusak, manusia justru lebih mudah menyalahkan makhluk lain yang dianggap sebagai sumber masalah. Dalam konteks inilah ikan sapu-sapu sering menjadi sasaran tudingan.

Di banyak sungai perkotaan, khususnya wilayah padat seperti Jakarta dan sekitarnya, ikan sapu-sapu dianggap sebagai biang kerok rusaknya ekosistem sungai.

Bentuk tubuhnya yang berbeda, jumlahnya yang melimpah, serta kemampuannya bertahan di air tercemar membuat ikan ini seolah menjadi simbol dari kerusakan lingkungan.

Padahal, keberadaan ikan sapu-sapu di Indonesia tidak muncul begitu saja. Spesies ini berasal dari Amerika Selatan dan awalnya masuk melalui perdagangan ikan hias. Banyak orang memeliharanya di akuarium karena kemampuannya memakan alga dan membersihkan kaca.

Masalah mulai muncul ketika ikan tersebut dilepas ke sungai atau perairan umum, baik karena pemiliknya tidak lagi ingin memelihara, kelalaian, maupun pelepasan secara sengaja. Dari sinilah populasi ikan sapu-sapu mulai berkembang luas.

Indonesia Jadi Habitat Ideal Spesies Asing

Kondisi alam Indonesia ternyata sangat mendukung perkembangan spesies asing. Suhu perairan yang stabil serta sumber makanan yang melimpah membuat berbagai spesies nonlokal mudah berkembang biak.

Namun ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak hanya dipicu kemampuan adaptasinya. Faktor utama justru berasal dari kerusakan lingkungan yang telah terjadi selama bertahun-tahun.

Pencemaran akibat limbah rumah tangga, limbah industri, hingga aktivitas manusia lainnya membuat kualitas air sungai menurun drastis. Dalam kondisi tersebut, banyak ikan lokal yang lebih sensitif tidak mampu bertahan hidup.

Sebaliknya, ikan sapu-sapu memiliki daya tahan luar biasa. Mereka tetap bisa hidup di air minim oksigen, keruh, bahkan tercemar. Ketika spesies lain melemah, ikan ini justru berkembang tanpa banyak pesaing.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Triyanto, menilai fenomena ini sering disalahartikan masyarakat. Menurutnya, ikan sapu-sapu sebenarnya hanya memanfaatkan kondisi lingkungan yang tersedia.

Dalam pandangannya, ikan sapu-sapu hanyalah “penumpang” dalam ekosistem yang telah berubah, bukan penyebab utama perubahan tersebut.

Artinya, kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar justru bisa menjadi alarm ekologis bahwa kualitas lingkungan sedang tidak baik-baik saja. Kehadirannya menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam ekosistem sungai.

Ironisnya, perhatian publik sering hanya fokus pada upaya memusnahkan ikan sapu-sapu tanpa memperbaiki akar persoalan, yakni kerusakan lingkungan dan pencemaran sungai.

Menurut Triyanto, langkah instan seperti mendatangkan predator asing juga berisiko menimbulkan masalah baru. Spesies baru yang diperkenalkan bisa saja berubah menjadi invasif dan merusak keseimbangan ekosistem lainnya.

Perbaikan Lingkungan

Solusi paling mendasar sebenarnya bukan menghilangkan ikan sapu-sapu, melainkan memulihkan kualitas lingkungan sungai.

Jika kualitas air membaik, ekosistem akan perlahan kembali seimbang. Ikan-ikan lokal dapat berkembang lagi, sementara predator alami seperti ikan gabus, baung, biawak, hingga berang-berang kembali memainkan perannya dalam rantai makanan.

Dahulu, beberapa sungai di Indonesia bahkan masih dihuni labi-labi berukuran besar. Kini keberadaan predator alami seperti itu semakin jarang ditemukan akibat kerusakan habitat.

Hilangnya predator alami inilah yang ikut mempercepat dominasi spesies seperti ikan sapu-sapu. Ketika rantai makanan terganggu, satu spesies bisa berkembang tanpa kontrol.

Aspek lain yang juga sering dibahas adalah kandungan logam berat pada ikan sapu-sapu. Karena hidup di perairan tercemar, ikan ini memang berpotensi menyerap zat berbahaya.

Namun secara ilmiah, logam berat tersebut tidak otomatis menyebar kembali ke lingkungan selama kondisi air stabil.

Zat tersebut cenderung tetap terikat di tubuh ikan. Hal ini kembali menunjukkan bahwa kualitas air menjadi faktor terpenting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Fenomena ikan sapu-sapu sebenarnya membuka refleksi yang lebih luas mengenai hubungan manusia dengan alam.

Sebagai makhluk berakal, manusia seharusnya mampu melihat persoalan secara menyeluruh, bukan hanya menyalahkan gejala yang tampak di permukaan.

Pemikiran Al-Ghazali menjadi relevan dalam konteks ini. Akal tidak hanya dipakai untuk memahami persoalan, tetapi juga untuk bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

Menyalahkan ikan sapu-sapu tanpa memperbaiki kondisi sungai sama saja dengan mengabaikan akar masalah yang sebenarnya.

Pada akhirnya, ikan sapu-sapu hanyalah makhluk hidup yang berusaha bertahan di lingkungan yang telah berubah. Ia tidak memilih datang, tidak memilih berkembang, dan tidak memiliki kesadaran untuk merusak alam.

Sebaliknya, manusialah yang memiliki kemampuan untuk memilih: membiarkan kerusakan terus terjadi atau mulai memperbaiki hubungan dengan lingkungan.

Karena pada akhirnya, sapu-sapu hanyalah ikan. Yang perlu dibenahi adalah cara manusia memperlakukan alamnya sendiri. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
#ikan sapu-sapu #kemunculan