RADARPAPUA - Upaya mencari cara yang lebih efektif untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melahirkan sebuah inovasi baru berupa metode yang disebut ubi bombing.
Teknik ini memanfaatkan tepung ubi dan tepung singkong sebagai alternatif pemadaman api selain metode water bombing yang selama ini digunakan.
Istilah ubi bombing mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto memimpin Rapat Penanganan Karhutla di Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (24/8).
Dalam rapat tersebut, Prabowo memberikan arahan agar inovasi berbasis tepung tersebut dikaji dan diuji sebagai salah satu pilihan untuk menghadapi kondisi darurat karhutla.
Dalam penerapannya, tepung ubi dan tepung singkong dapat dibentuk menjadi bola-bola kecil. Bahan tersebut juga dapat dikembangkan dalam bentuk formula seperti yang digunakan pada Alat Pemadam Api Ringan (APAR), termasuk kemungkinan diaplikasikan melalui alat semprot.
”Seperti alat pemadam kebakaran, ya yang kita bayangkan. Itu kan yang keluar kan zat kimia, bener nggak? Coba dicek ya. Coba dicek BRIN. Apakah bisa produksi atau kita sourcing,” kata Prabowo.
Baca Juga: Karhutla Papua Barat Makin Meluas, Fakfak Terparah Capai 2.171 Hektare
Prabowo menilai petugas yang menangani karhutla di lapangan perlu didukung peralatan yang memadai. Karena itu, pemerintah didorong mencari metode dan perangkat pemadaman yang lebih efektif untuk memperkuat penanganan kebakaran.
Tepung ubi dan tepung singkong dinilai memiliki kemampuan membantu mencegah permukaan atau objek terbakar.
Meski demikian, penggunaan bahan tersebut untuk menangani karhutla dalam skala besar masih membutuhkan pengujian lebih lanjut.
Efektivitas ubi bombing perlu diuji berdasarkan sejumlah faktor, seperti luas area yang terbakar, ukuran bahan yang digunakan, serta volume bahan yang dapat dibawa dan digunakan dalam operasi pemadaman.
Bahan tersebut juga dapat diaplikasikan menggunakan alat semprot, sedangkan bentuk bola-bola kecil memungkinkan pengembangan metode penggunaan lainnya.
Inovasi tersebut disebut telah digunakan dalam penanganan kebakaran skala kecil. Namun, kemampuannya untuk memadamkan karhutla yang mencakup area luas masih harus dibuktikan melalui serangkaian pengujian.
Salah satu hal yang ingin diketahui pemerintah adalah kemungkinan penggunaan bahan tersebut dari udara dengan memanfaatkan helikopter atau pesawat yang selama ini digunakan untuk operasi water bombing.
Baca Juga: Soroti Banyaknya Aparat di Papua, Pigai Desak TNI-Polri Ungkap Jumlah Personel
Prabowo meminta dilakukan uji coba untuk mengetahui seberapa luas wilayah yang dapat ditangani apabila bahan berbasis tepung tersebut dibawa menggunakan pesawat M17.
Pesawat tersebut selama ini dapat membawa sekitar empat ton air untuk operasi water bombing.
”Kalau M17 itu 4 ton water bombing. Mungkin ubi serbuk, tepung ini kita uji coba efektif luasnya berapa. M17 cukup efektif?,” kata Prabowo.
Dalam rapat tersebut, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis menjelaskan bahwa inovasi bahan pemadam berbasis tepung singkong tersebut merupakan hasil temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau.
Meski memiliki potensi untuk dikembangkan, inovasi tersebut masih menghadapi kendala kapasitas produksi.
Saat ini kemampuan produksinya masih terbatas sehingga diperlukan peningkatan skala produksi apabila nantinya terbukti efektif digunakan untuk penanganan karhutla.
"Memang kapasitas produksinya masih kecil bapak. Kalau memang ada ini kami akan coba secara besar sehingga nanti ini juga sudah disampaikan kepada BNPB," terang dia.
Dengan demikian, ubi bombing saat ini masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian. Pemerintah perlu memastikan efektivitas, kapasitas produksi, serta metode penggunaannya sebelum inovasi tersebut dapat diterapkan secara luas sebagai alternatif penanganan karhutla. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey