Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Waspada! Kemarau 2026: Datang Lebih Awal dan Bertahan Lebih Lama, Cek Wilayahmu

Tina Mamangkey • Kamis, 23 April 2026 | 13:47 WIB
Ilustrasi - Sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap mulai. (freepik/jcomp)
Ilustrasi - Sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap mulai. (freepik/jcomp)

 

RADARPAPUA - Perubahan iklim kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Tahun 2026 diprediksi membawa pola cuaca yang berbeda dari biasanya, terutama terkait datangnya musim kemarau yang lebih cepat dan berpotensi lebih ekstrem di berbagai wilayah.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan tiba lebih awal.

Kondisi tersebut dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026, yang kini bergeser ke fase netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan anomali iklim di Samudera Pasifik dengan indeks ENSO berada di angka -0,28. Kondisi netral ini diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.

Namun, masyarakat diminta mulai waspada memasuki semester kedua tahun ini. Pasalnya, terdapat peluang sekitar 50–60 persen munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat yang dapat menyebabkan suhu udara terasa lebih panas dan curah hujan menurun signifikan.

"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun," ujar Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3).

Wilayah yang Mulai Mengalami Kemarau

Peralihan musim ditandai dengan perubahan arah angin dari Monsun Asia ke Monsun Australia. Berdasarkan data BMKG, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Beberapa wilayah yang lebih dulu terdampak antara lain:

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa jumlah wilayah yang mengalami kemarau akan terus bertambah pada bulan berikutnya.

"Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua," terangnya.

Pada Mei, sebanyak 184 ZOM diperkirakan mulai kering, disusul 163 ZOM pada Juni. Hal ini menunjukkan hampir setengah wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau lebih cepat dari jadwal normal.

Puncak Kemarau Lebih Panas dan Panjang

BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Kondisi ini diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

"Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya," tambah Faisal.

Imbauan Antisipasi dari BMKG

Menghadapi potensi kemarau yang lebih ekstrem, BMKG mengimbau berbagai sektor untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Petani diminta menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Di sisi lain, sektor energi juga perlu mengantisipasi ketersediaan air, terutama untuk operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Upaya penguatan sumber daya air, seperti revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi, juga menjadi hal penting.

"Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi," tegas Faisal.

Selain ancaman kekeringan, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan kualitas udara juga perlu diwaspadai. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah pencegahan secara aktif.

"BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia," imbuhnya.

Dengan berbagai indikator tersebut, masyarakat diharapkan lebih waspada dan mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini agar dampak musim kemarau 2026 dapat diminimalkan. (*)

Editor : Tina Mamangkey
#prediksi musim #musim kemarau 2026 #BMKG #Indonesia #musim kemarau