Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Inflasi Papua April 2026 Meningkat, Ini Komoditas Penyebabnya

Tina Mamangkey • Selasa, 5 Mei 2026 | 05:54 WIB
Suasana Pasar Ikan Hamadi di Kota Jayapura, Papua. (Antara/Qadri Pratiwi)
Suasana Pasar Ikan Hamadi di Kota Jayapura, Papua. (Antara/Qadri Pratiwi)

 

RADARPAPUA - Pergerakan harga sejumlah komoditas kembali mendorong inflasi di Papua. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada April 2026 mencapai 3,80 persen, dengan kenaikan harga emas perhiasan dan ikan tuna sebagai penyumbang utama.

Kepala Bagian Umum BPS Papua, Emi Puspitarini, menjelaskan bahwa peningkatan inflasi ini terlihat dari naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,83 pada April 2025 menjadi 109,85 pada April 2026.

"Secara rinci, komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar dengan kontribusi 0,84 persen," katanya.

Selain emas, kenaikan harga ikan tuna juga memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi dengan andil sebesar 0,70 persen. Disusul oleh komoditas tomat yang turut menyumbang 0,31 persen terhadap inflasi tahunan.

"Selain itu, tarif angkutan udara juga tercatat sebagai salah satu pemicu inflasi dengan andil 0,26 persen," ujarnya.

Tidak hanya itu, sejumlah kebutuhan pokok lainnya juga ikut mendorong kenaikan harga, seperti daging ayam ras dengan kontribusi 0,24 persen, beras 0,21 persen, kangkung 0,20 persen, serta cabai rawit sebesar 0,17 persen.

Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang justru mengalami penurunan harga dan memberikan efek penahan inflasi atau deflasi. Komoditas tersebut antara lain ikan mumar, biaya pendidikan tingkat SMA, bawang putih, bayam, serta buah pinang.

"Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga atau memberikan andil deflasi, di antaranya ikan mumar, uang sekolah menengah atas, bawang putih, bayam, dan buah pinang," katanya lagi.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Papua pada April 2026 tercatat sebesar 0,98 persen. Sementara itu, inflasi sejak awal tahun hingga April (year-to-date/ytd) berada di angka 1,39 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika harga di Papua masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi komoditas pangan dan kebutuhan lainnya, sehingga pengendalian harga tetap menjadi perhatian penting untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. (an)

Editor : Tina Mamangkey
#BPS Papua #komoditas #Inflasi #BPS #Provinsi Papua