RADARPAPUA - Perdebatan mengenai Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan kembali menjadi sorotan setelah beredarnya sebuah film yang memuat sejumlah pandangan terkait proyek tersebut.
Menanggapi hal itu, Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC menyampaikan keberatan dan menilai sejumlah narasi dalam film tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Kecaman dan bantahan Uskup Mandagi disampaikan dalam sebuah video, seperti dilihat, Senin (25/5). Dalam film tersebut Uskup Mandagi dimintai tanggapan oleh seorang pastor tentang film PSN.
Menurut Uskup Mandagi, film tersebut memuat sudut pandang yang cenderung memicu opini tertentu dan tidak menghadirkan informasi secara utuh.
"Bagi saya film PSN itu bagi saya memang bersifat betul-betul provokatif, terlebih untuk diri sendiri. Tetapi dalam menonton jangan hilang otak kita, daya kritis kita. Karena misalnya ya, apa tujuan dari film itu? Apa? Orang yang membuat film ini dia tidak tinggal di Papua. Yang membantu dia hanya berkeliaran beberapa waktu. Jadi apa maksud?" kata Uskup Mandagi dalam wawancara.
Ia menegaskan sejumlah informasi yang ditampilkan dalam film itu, terutama yang berkaitan dengan Gereja Katolik dan Keuskupan Agung Merauke, tidak sesuai dengan kenyataan.
Menurutnya, film tersebut menampilkan gambaran seolah-olah Keuskupan Agung Merauke mendukung penuh proyek strategis nasional di Papua Selatan dan bahkan disebut menerima keuntungan dari proyek tersebut.
Uskup Mandagi membantah keras narasi tersebut.
"Jadi misalnya tentang Gereja Katolik di dalam film itu. Betapa, betapa tidak benar apa yang dikatakan di dalam film itu. Mengatakan bahwa Keuskupan Agung Merauke menyetujui, menerima PSN. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup menjual tanah. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang menghancurkan katakanlah hutan Papua Selatan terlebih kelapa sawit, hutan sawit. Ini dan dikatakan juga bukan hanya kerja sama, tapi mendapat dana lagi. Jadi seolah-olah Keuskupan Agung Merauke sudah disuap," papar Uskup Mandagi.
Selain membantah isi film, Uskup Mandagi juga mempertanyakan proses pengumpulan informasi yang dilakukan dalam pembuatan film tersebut.
Ia menilai pihak pembuat film tidak pernah datang secara langsung untuk meminta penjelasan kepada dirinya maupun para pastor yang bertugas di wilayah Keuskupan Agung Merauke.
"Pertanyaannya, benarkah ini? Kenapa sutradara film ini tidak datang tanya kepada uskup? Tidak datang tanya kepada pastor-pastor yang ada di tempat itu dan hanya mendengar dari orang-orang yang punya tujuan yang sama dengan sutradara itu. Kenapa? Ada apa?", tanya dia.
Uskup Mandagi mengaku merasa sedih karena narasi yang dimunculkan dalam film itu dinilai tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Menurut dia, banyak pihak yang tampil dalam film tersebut tidak mengetahui secara langsung perjalanan dan upaya yang dilakukan Keuskupan Agung Merauke dalam mendampingi masyarakat serta menjaga Papua Selatan.
Ia juga menilai narasumber yang diwawancarai dalam film dipilih berdasarkan sudut pandang yang sejalan dengan pembuat film.
Karena itu, menurutnya informasi yang disampaikan menjadi tidak berimbang dan tidak menghadirkan pandangan secara menyeluruh.
"Jadi ada apa-apa, cuma diminta ke orang-orang yang setuju, sealiran dengan sutradara, dan juga sealiran dengan pemberi dana. Barangkali itu cuma isu, pemberi dana," katanya.
Melalui penjelasan tersebut, Uskup Agung Merauke menegaskan pihaknya ingin meluruskan informasi yang beredar terkait PSN di Papua Selatan sekaligus mengajak masyarakat melihat persoalan tersebut secara kritis dari berbagai sudut pandang. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey