RADARPAPUA - Suasana damai dan aman di wilayah Papua Pegunungan terus menjadi harapan bersama. Aparat kepolisian pun mengajak seluruh masyarakat menjaga ketertiban dan menghindari konflik antarsuku agar kejadian yang menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material tidak kembali terulang.
Kepolisian Daerah Papua menegaskan pentingnya menjaga kedamaian di wilayah tersebut, terutama setelah konflik antarsuku yang sempat terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Peristiwa itu menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap keamanan dan aktivitas masyarakat.
Perwira Penghubung Polda Papua di Papua Pegunungan, Kombes Pol Andi Y Enoch, mengatakan pihaknya berharap konflik serupa tidak lagi terjadi, baik di Wamena maupun di daerah lain di wilayah Papua Pegunungan.
“Kami tentu berharap perang suku yang terjadi di Wamena beberapa waktu lalu adalah yang terakhir dan tidak terjadi lagi sehingga kedamaian benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua Pegunungan,” katanya.
Menurut Andi, persoalan yang muncul di tengah masyarakat sebaiknya tidak lagi diselesaikan melalui perang atau bentrokan antarsuku. Ia menilai penyelesaian masalah melalui jalur hukum menjadi langkah yang lebih tepat demi menciptakan rasa keadilan dan mencegah konflik berkepanjangan.
Ia juga berharap masyarakat Papua Pegunungan semakin mengedepankan hukum yang berlaku saat menghadapi persoalan, sehingga penyelesaian dapat berlangsung tertib dan memberikan efek jera bagi pihak yang melanggar.
“Kami berharap masyarakat Papua Pegunungan tidak lagi menggunakan perang sebagai cara dalam menyelesaikan masalah, tetapi menggunakan hukum pemerintah sehingga memberikan efek jera kepada pelakunya,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya menciptakan perdamaian, penyelesaian konflik antarsuku sebelumnya telah dilakukan di Mapolres Jayawijaya. Proses tersebut turut disaksikan langsung oleh Kapolda Papua, Pangdam XVII/Cenderawasih, Wakil Menteri Dalam Negeri RI, serta Gubernur Papua Pegunungan John Tabo.
Dalam kesempatan itu, proses perdamaian dijalankan melalui prosesi adat panah-panah atau patah alat perang. Tradisi tersebut menjadi simbol berakhirnya pertikaian dan komitmen untuk membangun kehidupan yang rukun di tengah masyarakat.
“Penyelesaian masalah dengan prosesi adat panah panah atau patah alat perang telah dilakukan, maka kami dari kepolisian berharap perang tak lagi terjadi dan seluruh masyarakat bisa hidup berdampingan satu dengan lainnya,” katanya.
Polda Papua juga menilai keamanan dan ketertiban masyarakat harus terus dijaga agar pembangunan di Papua Pegunungan dapat berjalan lancar. Situasi yang kondusif diyakini menjadi modal penting untuk mempercepat kemajuan di berbagai sektor.
Mulai dari transportasi, perekonomian, pelayanan sosial, kesehatan hingga pendidikan, seluruh sektor dinilai akan berkembang lebih baik jika didukung suasana yang aman dan stabil.
“Kami berharap pembangunan dapat berjalan baik di Papua Pegunungan sehingga akses transportasi, ekonomi, sosial, kesehatan dan pendidikan berkembang pesat dan masyarakat bisa hidup dengan sejahtera,” ujarnya.
Dengan komitmen bersama menjaga kedamaian, Papua Pegunungan diharapkan semakin berkembang menjadi wilayah yang aman, harmonis, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat. (ant)