Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Didepak dari Kepala BGN, Ini 5 Pernyataan Dadan Hindayana yang Paling Kontroversial

Tina Mamangkey • Rabu, 3 Juni 2026 | 15:11 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana. (Istimewa)
Kepala BGN Dadan Hindayana. (Istimewa)

 

RADARPAPUA - Pergantian pucuk pimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) kembali mengundang perhatian publik. 

Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala BGN pada Selasa (2/6) malam setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sekitar satu setengah tahun.

Selama menjabat, Dadan bukan hanya dikenal sebagai sosok yang mengawal program unggulan pemerintah tersebut, tetapi juga kerap menjadi sorotan karena sejumlah pernyataannya yang memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Mulai dari anjuran konsumsi susu dalam jumlah besar, wacana pemanfaatan ulat sebagai sumber protein, hingga rencana ekspansi program MBG ke luar negeri.

Berikut lima pernyataan Dadan Hindayana yang paling banyak menyita perhatian publik.

1. Susu 2 Liter Sehari untuk MBG

Dadan pernah bilang untuk mengonsumsi dua liter susu per hari guna menunjang pertumbuhan anak. Hal itu ia sampaikan pada 29 Mei 2025 lalu di sebuah Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur.

Ia mengatakan hal tersebut usai membagikan kisah pribadinya tentang pengalaman membesarkan kedua putranya.

Ia menegaskan bahwa minum susu sebanyak dua liter per hari bukanlah anjuran resmi, melainkan pengalaman pribadi yang dapat dijadikan pijakan dasar kebijakan program prioritas Presiden Prabowo, yakni MBG.

“Jadi tinggi badan bukan cuma masalah genetik, tapi juga asupan gizi yang cukup dan seimbang,” ujarnya.

Pernyataan itu kemudian menuai beragam respons karena dianggap sulit diterapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

2. Usul Ulat dan Serangga Sebagai Sumber Protein

Pernyataan lain yang memicu kontroversi muncul ketika Dadan membuka kemungkinan penggunaan serangga sebagai sumber protein alternatif dalam Program Makan Bergizi Gratis.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (24/1/2025) saat menjelaskan bahwa BGN tidak menetapkan satu jenis menu yang harus diterapkan secara nasional.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik pangan yang berbeda sehingga bisa menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat setempat.

”Mungkin saja ada daerah yang suka makan serangga, belalang, ulat sagu. Tapi itu contoh bahwa Badan Gizi ini tidak menetapkan standar menu nasional, tetapi standar komposisi gizi,” tutur Dadan.

Ucapan tersebut langsung menjadi bahan diskusi luas di media sosial dan memunculkan pro serta kontra di masyarakat.

3. Pengadaan Motor Listrik 

Kontroversi berikutnya muncul setelah beredarnya foto dan video sepeda motor listrik berlogo BGN yang viral di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Dadan menjelaskan bahwa pengadaan kendaraan tersebut bukan kebijakan mendadak, melainkan telah masuk dalam perencanaan anggaran tahun 2025 sebagai sarana pendukung operasional program.

“Pengadaan motor listrik ini sudah direncanakan dalam anggaran tahun 2025 sebagai bagian dari dukungan operasional Program MBG, khususnya untuk menunjang mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi,” ujar Dadan di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Meski telah diberikan penjelasan, kebijakan tersebut tetap menuai kritik dari sebagian pihak yang mempertanyakan prioritas penggunaan anggaran.

4. Penggunaan Jasa Event Organizer (EO) 

Publik juga sempat mempertanyakan keputusan BGN yang membuka pengadaan jasa Event Organizer (EO), mengingat lembaga tersebut berfokus pada penanganan masalah gizi dan stunting.

Menjawab kritik tersebut, Dadan menilai keterlibatan EO diperlukan untuk membantu pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis.

"Penggunaan jasa EO dalam konteks ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu. EO memiliki keahlian khusus dalam manajemen acara, mulai dari perencanaan, koordinasi vendor, pengelolaan teknis lapangan, hingga mitigasi risiko operasional. Hal-hal ini membutuhkan pengalaman dan tim yang solid yang secara realistis belum sepenuhnya dimiliki oleh BGN di fase awal pembentukannya," jelasnya Sabtu (11/4/2026).

Menurut Dadan, keberadaan EO tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan, tetapi juga berperan sebagai mitra dalam penyusunan strategi komunikasi, pengelolaan audiens, hingga optimalisasi penggunaan anggaran.

5.  Ekspansi MBG ke Arab Saudi

Pernyataan yang tak kalah mengundang perhatian adalah ketika Dadan membuka peluang pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Jeddah, Arab Saudi.

Wacana tersebut menjadi kontroversial karena saat itu masih terdapat sejumlah daerah di Indonesia yang belum sepenuhnya terjangkau program MBG.

Banyak pihak mempertanyakan urgensi perluasan program ke luar negeri ketika pelaksanaannya di dalam negeri masih terus dikembangkan.

Menurut Dadan, gagasan tersebut muncul karena adanya ribuan anak pekerja migran Indonesia yang bersekolah di Sekolah Indonesia Jeddah dan berpotensi menjadi penerima manfaat program.

"Menjajaki dan akan saya laporkan dulu ke Presiden. Di sana ada 1081 anak pekerja migran yang ingin mendapatkan program MBG," kata Dadan, Senin (1/6/2026).

Berbagai pernyataan tersebut menjadikan Dadan Hindayana sebagai salah satu pejabat yang cukup sering berada di pusat perhatian publik selama memimpin BGN.

Kini, setelah resmi dicopot dari jabatannya, sejumlah pernyataan kontroversial yang pernah ia lontarkan kembali ramai diperbincangkan masyarakat.

Editor : Tina Mamangkey
#BGN #kepala bgn dicopot #dadan hindayana #pernyataan kontroversial dadan hindayana #Mbg