Penjualan Freeport Turun, Ekonomi Papua Tengah Kontraksi 15,44 Persen

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 06:31 WIB
Kepala BPS Kabupaten Nabire Dio Ginting. (ANTARA/Ali Nur Ichsan)
Kepala BPS Kabupaten Nabire Dio Ginting. (ANTARA/Ali Nur Ichsan)

 

RADARPAPUA - Perlambatan sektor pertambangan memberikan dampak besar terhadap laju ekonomi Papua Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Papua Tengah mengalami kontraksi sebesar 15,44 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan (y-on-y) akibat penurunan penjualan komoditas tembaga dan emas PT Freeport Indonesia.

Meski demikian, sektor ekonomi di luar pertambangan masih menunjukkan kinerja positif dan tetap mengalami pertumbuhan di tengah tekanan dari sektor utama penyumbang ekonomi daerah tersebut.

Kepala BPS Kabupaten Nabire Dio Ginting di Nabire, Rabu, menjelaskan bahwa sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung perekonomian Papua Tengah dengan kontribusi mencapai 76,51 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

"Ketika sektor pertambangan mengalami pergejolakan, secara otomatis pertumbuhan ekonomi Papua Tengah juga akan ikut bergejolak," katanya.

Dio menjelaskan, penurunan pertumbuhan ekonomi secara tahunan bukan disebabkan oleh melemahnya aktivitas usaha masyarakat. Kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh penurunan produksi dan penjualan komoditas PT Freeport Indonesia yang memiliki peran besar dalam struktur ekonomi Papua Tengah.

Berdasarkan data PT Freeport Indonesia, penjualan tembaga pada triwulan II 2026 turun menjadi 153 juta pon dari sebelumnya 443 juta pon pada periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, penjualan emas juga mengalami penurunan dari 518 ribu ons menjadi 118 ribu ons.

Penurunan tersebut memberikan pengaruh signifikan karena sektor pertambangan memiliki porsi terbesar dalam pembentukan PDRB Papua Tengah. Perubahan produksi maupun penjualan komoditas tambang secara langsung berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, kondisi ekonomi Papua Tengah mulai menunjukkan pemulihan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi Papua Tengah tumbuh sebesar 5,24 persen pada triwulan II 2026 seiring meningkatnya kembali kinerja sektor pertambangan.

Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan tembaga yang naik dari 82 juta pon pada triwulan I 2026 menjadi 153 juta pon pada triwulan II 2026. Penjualan emas juga mengalami kenaikan meski tipis, dari 116 ribu ons menjadi 118 ribu ons.

Selain peningkatan volume penjualan, harga rata-rata tembaga pada triwulan II 2026 turut mengalami kenaikan, dari 5,89 dolar AS per pon menjadi 6,12 dolar AS per pon.

Dio mengatakan, kondisi perekonomian masyarakat Papua Tengah sebenarnya lebih terlihat melalui perhitungan PDRB yang tidak memasukkan sektor pertambangan. Jika sektor tersebut dikeluarkan, ekonomi Papua Tengah justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,45 persen secara tahunan.

"Ini membuktikan bahwa aktivitas usaha riil masyarakat, pembangunan, dan pelayanan pemerintahan berjalan sangat baik dan terus berkembang," ujarnya. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
papua tengah Pertumbuhan Ekonomi PT Freeport Indonesia BPS nabire