RADARPAPUA - Aktivitas titik panas atau hotspot di Tanah Papua mendapat perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setelah terdeteksi 110 titik api yang tersebar di 10 kabupaten.
Titik-titik tersebut berada di wilayah Provinsi Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Tengah.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Adinda Onthoni di Jayapura, Senin, mengatakan berdasarkan pemantauan hotspot pada pukul 02.00–11.00 WIT, terdapat 110 titik api di seluruh Tanah Papua. Sebagian besar titik tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang.
Dari total tersebut, sebanyak 79 titik atau 71,8 persen memiliki tingkat kepercayaan sedang. Sementara 31 titik lainnya atau 28,2 persen masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi.
Adinda menjelaskan Kabupaten Merauke menjadi wilayah dengan jumlah titik api terbanyak, yakni 46 titik. Selanjutnya Kabupaten Mappi dan Dogiyai masing-masing mencatat 18 titik, Jayawijaya delapan titik, dan Nduga tujuh titik.
Titik api juga terpantau di Kabupaten Fakfak sebanyak empat titik, Lanny Jaya tiga titik, sedangkan Mimika, Asmat, dan Pegunungan Arfak masing-masing memiliki dua titik api.
Baca Juga: Karhutla Papua Barat Makin Meluas, Fakfak Terparah Capai 2.171 Hektare
Menurut Adinda, munculnya titik api berkaitan dengan kombinasi sejumlah kondisi, termasuk fenomena El Niño dan periode puncak musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat peningkatan hotspot perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran dan dampak lainnya.
Risiko yang dapat muncul antara lain penurunan intensitas curah hujan, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara akibat asap.
Kondisi tersebut juga dapat memicu gangguan kesehatan masyarakat, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Selain berdampak terhadap kesehatan, kabut asap akibat kebakaran juga berpotensi mengganggu transportasi darat dan udara karena jarak pandang dapat menurun. Kekeringan dan kebakaran turut berisiko menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian maupun perkebunan.
Untuk mencegah jumlah titik api terus bertambah, masyarakat diimbau tidak membuka atau mengelola lahan dengan cara membakar hutan dan lahan, terutama untuk keperluan perkebunan.
"Terus pantau informasi cuaca, iklim, perkembangan fenomena El Niño, dan informasi hotspot dari BMKG sebagai dasar langkah antisipasi dan mitigasi," kata Adinda. (ant)
Editor : Tina Mamangkey