Fenomena Hujan Es di Papua Pegunungan Saat Udara Panas, Ini Penjelasan BMKG

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:09 WIB
Hujan es yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. (ANTARA/HO-Dokumentasi)
Hujan es yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. (ANTARA/HO-Dokumentasi)

 

RADARPAPUA - Fenomena hujan es yang terjadi di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, berkaitan dengan kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan yang cukup kuat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura menjelaskan bahwa awan Cumulonimbus (Cb) menjadi salah satu faktor utama terbentuknya butiran es hingga mencapai permukaan.

Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Arif Setiawan di Jayapura, Senin, mengatakan awan Cumulonimbus merupakan jenis awan konvektif yang dapat berkembang menjulang tinggi dengan arus udara naik yang kuat.

Kondisi tersebut membuat butiran air di dalam awan terbawa ke bagian yang memiliki suhu sangat dingin hingga membeku dan berubah menjadi butiran es.

"Apalagi Kabupaten Lanny Jaya berada di daerah pegunungan dengan ketinggian cukup tinggi hingga dapat mendukung terjadinya hujan es," kata Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Arif Setiawan di Jayapura, Senin.

Kondisi geografis Lanny Jaya yang berada di wilayah pegunungan turut mendukung fenomena tersebut. Semakin tinggi suatu daerah, suhu udara pada umumnya semakin rendah.

Akibatnya, ketika butiran es jatuh dari awan menuju permukaan, proses pencairannya dapat berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan daerah yang berada di dataran lebih rendah dan memiliki suhu lebih hangat.

Baca Juga: BMKG Deteksi 110 Titik Api di Tanah Papua, Merauke Jadi Wilayah Terbanyak

Jika lapisan udara yang dilewati butiran es juga memiliki suhu cukup rendah, butiran tersebut dapat tetap bertahan dalam bentuk es hingga mencapai permukaan.

Inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya hujan es di wilayah pegunungan seperti Lanny Jaya.

Arif menjelaskan bahwa kondisi musim juga dapat berperan dalam mendukung pertumbuhan awan konvektif. Pada musim kemarau, pemanasan permukaan bumi pada siang hari dapat berlangsung lebih kuat.

Udara di dekat permukaan menjadi lebih hangat dan kemudian bergerak naik sehingga dapat memicu pertumbuhan awan konvektif, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung.

Sementara pada sore hingga malam hari, suhu udara cenderung menurun akibat pelepasan panas dari permukaan bumi.

Menurut Arif, hujan es tidak dapat dikaitkan hanya dengan musim kemarau ataupun suhu malam yang dingin.

Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan awan Cumulonimbus yang kuat serta kondisi suhu dan dinamika atmosfer yang memungkinkan butiran es terbentuk dan bertahan hingga mencapai permukaan.

"Hujan es di Kabupaten Lanny Jaya dapat terjadi ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat dan menghasilkan butiran es, serta suhu udara di sekitar yang relatif rendah akibat kondisi topografi pegunungan yang berada pada wilayah yang tinggi, hal ini membantu mengurangi pencairan butiran es sebelum mencapai permukaan," ujar Arif Setiawan. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
hujan es bmkg jayapura BMKG Papua Pegunungan