Nabire Masuk Status Darurat El Nino, Pemerintah Siapkan Langkah Hadapi Kekeringan

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:34 WIB
Bupati Nabire Mesak Magai didamping Kapolres dan Dandim Nabire saat memimpin rapat koordinasi penanganan El Nino di Nabire, Rabu (26/8/2026). (ANTARA/Ali Nur Ichsan)
Bupati Nabire Mesak Magai didamping Kapolres dan Dandim Nabire saat memimpin rapat koordinasi penanganan El Nino di Nabire, Rabu (26/8/2026). (ANTARA/Ali Nur Ichsan)

 

RADARPAPUA - Ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih dan pangan membuat Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengambil langkah antisipasi dengan menetapkan status darurat El Nino. 

Pemerintah daerah sekaligus membentuk Satuan Tugas (Satgas) Tanggap El Nino untuk memperkuat penanganan dampak yang dirasakan masyarakat.

Bupati Nabire Mesak Magai mengatakan status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengoordinasikan berbagai upaya penanganan bersama perangkat daerah, TNI-Polri, Bulog, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya.

“Status darurat sudah kami tetapkan, status darurat El Nino. Dengan itu Pemkab Nabire telah membuat Satgas Tanggap El Nino,” katanya usai rapat koordinasi penanganan El Nino.

Dalam menghadapi dampak kekeringan, Pemkab Nabire memetakan wilayah menjadi tiga zona berdasarkan karakteristik daerah dan tingkat kerentanan masyarakat. Pemetaan ini dilakukan agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Zona pesisir dan kepulauan menjadi salah satu perhatian utama, terutama dalam menjaga pasokan pangan pokok seperti sagu, singkong, pisang, kelapa dan sukun.

Baca Juga: 2.190 Personel Gabungan Siaga Hadapi Karhutla di Tanah Papua, Ini Wilayahnya

Wilayah tersebut perlu mendapat perhatian karena sebagian masyarakat tidak berkebun sehingga ketersediaan bahan pangan harus tetap terjamin.

Sementara itu, wilayah daratan perkotaan yang menjadi sentra produksi sayuran, cabai, tomat dan bawang diantisipasi mengalami penurunan produksi.

Berkurangnya curah hujan akibat kondisi El Nino dapat berdampak terhadap produktivitas pertanian di kawasan tersebut.

Adapun wilayah pegunungan, seperti Distrik Uwapa, Siriwo, Dipa dan Menou, mendapat perhatian khusus karena tanaman ubi dan betatas yang menjadi bagian dari produksi pangan masyarakat dinilai rentan terhadap kekeringan.

Selain mengantisipasi gangguan produksi pangan, Pemkab Nabire menyiapkan langkah untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Pemerintah akan bekerja sama dengan TNI dan Polri mendistribusikan air bersih, terutama ke wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah seperti Nabire Barat.

Penanganan kebutuhan air tidak hanya dilakukan melalui pengiriman menggunakan truk tangki. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan sumur bor.

Namun, sebelum pembangunan dilakukan, survei akan dilaksanakan untuk mengetahui potensi sumber air bawah tanah yang dapat dimanfaatkan.

“Posko kita sudah tentukan di Aula Dinas PUPR Nabire. Nanti kita susun anggota Satgas, sehingga seluruh kepala distrik menjadi koordinator masing-masing distrik,” ujarnya.

Untuk menjaga ketersediaan pangan, Pemkab Nabire juga berkoordinasi dengan Bulog dan distributor. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan stok beras tetap tersedia sekaligus mendatangkan komoditas dari luar daerah apabila produksi pangan lokal mengalami penurunan.

Pemkab Nabire juga akan membuka jalur pengiriman bahan pangan dari luar daerah.

Meski demikian, para distributor dan pedagang diminta tidak memanfaatkan kondisi kekeringan untuk menaikkan harga komoditas secara tidak wajar, terutama terhadap bahan pangan yang pasokannya masih dapat didatangkan dari luar daerah.

Penanganan dampak El Nino nantinya tidak hanya mengandalkan pemerintah dan aparat keamanan.

Satgas Tanggap El Nino juga akan melibatkan pihak swasta, perbankan, distributor bahan makanan serta kontraktor untuk mendukung berbagai kebutuhan penanganan di lapangan.

Baca Juga: Karhutla Papua Barat Makin Meluas, Fakfak Terparah Capai 2.171 Hektare

“Pihak swasta kita libatkan untuk turut membantu dan berpartisipasi,” ujarnya.

Di tengah kondisi kemarau dan munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Mesak juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, hutan maupun kebun secara sembarangan.

Menurutnya, pembakaran untuk membuka lahan dapat meluas dan menimbulkan dampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat.

Selain mengancam kesehatan, kabut asap dapat mengganggu kegiatan pendidikan, perekonomian, pelayanan pemerintahan hingga penerbangan.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di lingkungan rumah. Penggunaan listrik harus diperhatikan dengan baik, sementara puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan karena dapat menjadi sumber api.

Untuk mengurangi paparan polusi udara akibat kabut asap, warga juga diimbau menggunakan masker, terutama saat harus beraktivitas di luar ruangan. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
kekeringan el nino satgas nabire