Dilanda Kekeringan dan Fenomena Salju, Pemkab Nduga Tetapkan Status Tanggap Darurat hingga Desember

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:41 WIB
Bupati Nduga Yoas Beon diwawancarai wartawan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan terkait status tanggap darurat yang telah ditetapkan dalam menghadapi musim kemarau saat ini, Jumat (28/8) 2026. (ANTARA/Yudhi Efendi)
Bupati Nduga Yoas Beon diwawancarai wartawan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan terkait status tanggap darurat yang telah ditetapkan dalam menghadapi musim kemarau saat ini, Jumat (28/8) 2026. (ANTARA/Yudhi Efendi)

 

RADARPAPUA - Kondisi kemarau yang berdampak pada kekeringan, gagal panen, hingga turunnya salju di sejumlah wilayah mendorong Pemerintah Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, mengambil langkah penanganan khusus. 

Pemkab Nduga menetapkan status tanggap darurat mulai 26 Agustus 2026 dan membuka posko untuk menghadapi kondisi tersebut hingga Desember 2026.

Bupati Nduga Yoas Beon mengatakan kekeringan telah terjadi sejak April hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut berdampak pada masyarakat, terutama terkait ketersediaan air bersih dan bahan pangan.

“Kami pada tanggal 26 Agustus 2026 sudah mengambil langkah cepat menetapkan status tanggap darurat, sekaligus membuka posko dan akan berlangsung selama tiga bulan ke depan dalam mengantisipasi musim kemarau hingga turunnya salju di beberapa wilayah Kabupaten Nduga,” katanya.

Pemkab Nduga kini memprioritaskan ketersediaan air minum, bahan pokok, serta akses jalan dari Kenyam menuju Mumugu.

Kekeringan membuat debit sungai yang selama ini menjadi jalur utama transportasi menurun sehingga pasokan kebutuhan masyarakat terganggu dan harga bahan pokok maupun material bangunan di Mumugu meningkat.

“Khusus untuk wilayah (kampung) Mumugu harga bahan pokok dan bangunan saat ini sangat tinggi, karena debit air sungai yang biasa menjadi urat nadi transportasi mengering pada musim kemarau, sehingga kami mengupayakan membuka jalan dari Ibu Kota Kabupaten Nduga Kenyam ke Mumugu supaya warga di sana bisa memperoleh bahan pokok dan air bersih,” ujarnya.

Kampung Mumugu di Distrik Krepkuri merupakan satu-satunya wilayah Nduga yang berada di pesisir dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah membagi tim yang menangani kebutuhan air bersih, bahan pangan, kesehatan, sosial, serta pembukaan akses jalan.

Bupati juga memimpin langsung tim yang bergerak menuju Kuyawage, Distrik Wutpage, dan Nenggeagin yang mengalami kekeringan berkepanjangan dan terdampak turunnya salju.

“Tim saat ini ada yang menangani air bersih Ibu Kota Kabupaten Nduga Kenyam, ada juga yang menangani bahan makanan beras dan lain-lain. Saya memimpin langsung tim baik itu kesehatan, sosial, dan beberapa kepala distrik menuju daerah Kuyawage, Distrik Wutpage dan Nenggeagin karena di situ terjadi kekeringan panjang dan salju turun menutup semua Wutpage dan Nenggeagin,” katanya.

Pemerintah telah turun langsung ke lokasi terdampak dan menyalurkan 10 ton beras kepada masyarakat di Wutpage dan Nenggeagin. Bantuan tersebut mendapat sambutan antusias dari warga.

"Antusias masyarakat di sana sangat luar biasa menyambut kehadiran pemerintah dalam membantu penanganan peristiwa alam saat ini,” ujarnya.

Bupati Yoas juga meminta masyarakat di Wutpage dan Nenggeagin tidak meninggalkan wilayah mereka untuk mengungsi. Pemerintah memastikan bantuan dan penanganan akan terus diberikan kepada warga yang terdampak.

“Kami memastikan kehadiran pemerintah di tempat itu untuk memberikan perhatian dan bantuan kepada masyarakat yang terdampak musim kemarau, sehingga jangan mengungsi ke tempat lain,” kata Bupati Nduga Yeos Beon. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
pemkab nduga Papua Pegunungan kekeringan musim kemarau tanggap darurat