Kemarau Papua Pegunungan Berlanjut hingga Oktober 2026, BMKG Ungkap Kondisinya

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 21:22 WIB
Ilustrasi Musim kemarau. (magnific.com)
Ilustrasi Musim kemarau. (magnific.com)

 

RADARPAPUA - Masyarakat di wilayah Papua Pegunungan masih harus menghadapi periode kemarau dalam beberapa pekan ke depan. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Wamena, Kabupaten Jayawijaya, memperkirakan musim kemarau di wilayah tersebut masih berlangsung hingga Oktober 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Wamena Ricky R Holle di Wamena, Rabu, mengatakan kondisi Papua Pegunungan saat ini masih berada dalam periode kemarau dan belum memasuki musim hujan.

“Kita di sini belum masuk musim hujan, masih kemarau, karena pada dasarian tiga meski ada hujan dua hari tetapi volumenya 21 milimeter. Sedangkan volume hujan dalam 10 hari atau satu dasarian volumenya 50 milimeter, masih tetap dikatakan musim kemarau, belum musim hujan,” katanya.

Berdasarkan pengamatan perkembangan cuaca melalui citra satelit, BMKG memperkirakan kondisi kemarau tersebut masih akan berlangsung hingga Oktober 2026. Pergantian menuju musim hujan diperkirakan terjadi setelah memasuki pertengahan Oktober.

Baca Juga: Kontak Tembak di Dekai, 4 Anggota KKB Tewas dan 6 Orang Diamankan

“Musim kemarau akan berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026 atau memasuki dasarian tiga. Selanjutnya masuk pada musim hujan,” ujarnya.

Ricky juga menjelaskan bahwa fenomena El Nino masih berlangsung dan diperkirakan bertahan hingga Desember 2026. 

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas kondisi normal di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

“El Nino akan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Peristiwa alam seperti musim kemarau dan El Nino merupakan hal yang berbeda dalam kasus perkembangan cuaca,” katanya.

Di tengah berlangsungnya musim kemarau, BMKG juga mencatat adanya ribuan titik api di wilayah Papua Pegunungan. Berdasarkan pantauan citra satelit selama Agustus 2026, terdeteksi sekitar 2.700 titik api.

“Pada bulan Agustus 2026 terpantau citra satelit kami itu 2.700 titik api dan hujan dua hari pada 30-31 Agustus 2026 titik api itu menjadi nol atau tidak ada. Di wilayah Papua Pegunungan yang terbanyak terpantau titik api di Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya dan Tolikara,” ujarnya.

Baca Juga: Tiga Pulau Raja Ampat Jadi Sengketa, Zulkifli Hasan Buka Jalan Penyelesaian

Hujan yang turun selama dua hari pada 30-31 Agustus 2026 tersebut membuat titik api yang sebelumnya terpantau di sejumlah wilayah Papua Pegunungan menjadi nol.

Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, dan Tolikara tercatat sebagai wilayah dengan jumlah titik api terbanyak berdasarkan pemantauan citra satelit pada Agustus 2026. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
oktober 2026 BMKG Papua Pegunungan musim kemarau