RADARPAPUA - Musim kemarau kembali menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Papua Selatan menyusul tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Hingga September 2026, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menyebut terdapat sekitar 300 titik hutan dan lahan yang telah mengalami kebakaran.
"Untuk itu kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian pemerintah daerah karena terjadi setiap musim kemarau," katanya di Jayapura, Senin.
Apolo mengatakan, kebakaran yang terjadi di wilayah Papua Selatan tidak hanya berkaitan dengan satu penyebab.
Kondisi alam menjadi salah satu faktor, sementara aktivitas masyarakat dalam membuka lahan untuk perkebunan juga dapat memicu terjadinya kebakaran.
Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai cara membuka lahan yang aman dinilai penting untuk terus diperkuat. Pemerintah daerah juga mendorong instansi terkait agar aktif memberikan informasi kepada masyarakat di wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
"Meski begitu saya minta instansi terkait dapat terus memberikan sosialisasi dan edukasi yang baik bagi masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Tak Perlu ke Rumah Sakit di Kota, 18 Puskesmas Papua Selatan Layani Pasien HIV/AIDS
Selama ini, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten telah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi munculnya kebakaran hutan dan lahan.
Pengawasan terhadap kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran juga terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan.
Apolo menilai langkah pencegahan tersebut masih harus diperkuat agar penanganan karhutla dapat berjalan lebih optimal.
"Namun, upaya tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan melalui koordinasi dan kerja sama antarpemangku kepentingan, termasuk dengan Balai Pemantapan Kawasan Hutan dan Lingkungan (BPHL) Jayapura,"katanya lagi.
Selain memperkuat pengawasan, pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan cara yang digunakan ketika membuka kawasan hutan maupun lahan.
Pembakaran lahan berpotensi membuat api menyebar dan menimbulkan dampak yang lebih luas, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Baca Juga: Bapok ke Papua Pegunungan Diperketat, Pemprov Tempatkan Petugas di Bandara Sentani
"Tetapi dapat dilakukan dengan cara-cara mekanik maupun cara-cara yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.
Menurut Apolo, penggunaan metode mekanis dalam pembukaan lahan menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan masyarakat.
Cara tersebut diharapkan dapat membantu menekan risiko munculnya api sekaligus mengurangi kemungkinan kebakaran meluas ke kawasan lain.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Papua Selatan juga terus membangun koordinasi dengan pihak terkait dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan kehutanan.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga kawasan hutan sekaligus mengembangkan potensi kehutanan yang ada di Papua Selatan.
"Kami juga terus memperkuat kerja sama dengan BPHL Jayapura untuk mengoptimalkan potensi kehutanan di Papua Selatan," katanya. (ant)
Editor : Tina Mamangkey