Nakes Trauma Usai Kontak Tembak di Jila, Pelayanan Kesehatan Dihentikan Sementara

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 06:24 WIB
Kepala Dinas Kesehatan  Mimika Godfried Maturbongs saat ditemui wartawan di Timika, Jumat (11/9/2026). (ANTARA/Marselinus Nara)
Kepala Dinas Kesehatan Mimika Godfried Maturbongs saat ditemui wartawan di Timika, Jumat (11/9/2026). (ANTARA/Marselinus Nara)

 

RADARPAPUA - Keamanan tenaga kesehatan menjadi perhatian serius setelah kontak tembak terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. 

Peristiwa tersebut tidak hanya menyebabkan tenaga kesehatan dievakuasi dari wilayah itu, tetapi juga meninggalkan trauma bagi sejumlah petugas yang selama ini menjalankan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menyatakan para tenaga kesehatan mengalami trauma setelah kejadian tersebut.

Mereka dievakuasi menggunakan helikopter milik TNI Angkatan Udara sebagai langkah untuk memastikan keamanan dan keselamatan para petugas.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika Godfried Maturbongs di Timika, Jumat, mengatakan pelayanan kesehatan di wilayah Jila untuk sementara dihentikan setelah seluruh tenaga kesehatan dievakuasi.

Penghentian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja para tenaga kesehatan.

"Saya sudah berkomunikasi dengan beberapa nakes mereka mau kembali tetapi mereka masih trauma dengan peristiwa itu, Sekarang proses untuk menghilangkan trauma itu juga butuh waktu," ujarnya.

Menurut Godfried, salah satu tenaga kesehatan yang dievakuasi mengalami trauma berat.

Kondisi tersebut berkaitan dengan pengalaman kontak tembak yang disebut telah dialami beberapa kali selama yang bersangkutan menjalankan tugas pelayanan kesehatan di wilayah Jila.

Baca Juga: KSAD Maruli: KKB Mulai Resah dan Sembarangan Cari Korban di Jayawijaya

"Hasil dari dokter spesialis jiwa yang biasanya kami berkontrak untuk datang ke Timika, memang hasil pemeriksaannya Nakes ini tidak boleh lagi bertugas di sana. Dia (Nakes) ini mendengar benda jatuh saja dia langsung kaget karena trauma dengan bunyi-bunyi tembakan sehingga ketika dia dengar bunyi benda jatuh secara spontan/refleks dia berlari menghindari itu," ujarnya.

Godfried mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati Mimika mengenai keberlanjutan pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.

Namun, menurut dia, pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat harus tetap berjalan seiring dengan adanya jaminan keamanan dan keselamatan bagi tenaga kesehatan.

"Tugas dan tanggung jawab saya adalah menghadirkan tenaga kesehatan di sana namun pada satu sisi itu tenaga kesehatan juga mereka membutuhkan jaminan keamanan. Mereka mau bekerja tetapi apakah ada jaminan keamanan dan jaminan keselamatan di tempat tugas," ujarnya.

Ia menjelaskan seluruh tenaga kesehatan telah dievakuasi dari Distrik Jila pada 18 Agustus 2026. Sejak saat itu, pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah tersebut dihentikan sementara.

Dinas Kesehatan Mimika kini terus melakukan koordinasi dengan pimpinan daerah untuk mencari langkah yang memungkinkan pelayanan kesehatan kembali berjalan.

Baca Juga: DPR Ingatkan Pemerintah: Jangan Reaktif, Segera Susun Roadmap Pemberantasan KKB!

Namun, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan tenaga kesehatan yang akan ditempatkan kembali di wilayah tersebut.

Sebelumnya, kontak tembak antara kelompok bersenjata dan aparat keamanan terjadi di Distrik Jila pada 17 Agustus 2026.

Situasi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika melakukan evakuasi terhadap tenaga medis, guru, serta aparatur sipil negara dari wilayah itu demi alasan keamanan dan keselamatan kerja. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
Distrik Jila Kepala Dinas Kesehatan Mimika Tenaga Kesehatan bupati mimika Nakes