Istri Korban Pembunuhan OPM Dievakuasi Lewat Udara, Begini Perjalanan dari Mbua ke Wamena

Tina Mamangkey • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 06:34 WIB
Prajurit Pangkoops TNI Habema mengevakuasi dengan pengawalan ketat Ibu Sinta Bilolo, istri korban penembakan KKB Aris Sanda, dan dua orang pendamping menggunakan helikopter Bell dan Fennec dari Mbua ke Kenyam, kemudian dilanjutkann ke Wamena, Kamis (17/9/2026). (ANTARA/HO-Dok Koops TNI Habema)
Prajurit Pangkoops TNI Habema mengevakuasi dengan pengawalan ketat Ibu Sinta Bilolo, istri korban penembakan KKB Aris Sanda, dan dua orang pendamping menggunakan helikopter Bell dan Fennec dari Mbua ke Kenyam, kemudian dilanjutkann ke Wamena, Kamis (17/9/2026). (ANTARA/HO-Dok Koops TNI Habema)

 

RADARPAPUA - Kondisi akses transportasi darat yang belum memungkinkan membuat perjalanan Ibu Sinta Bilolo, istri almarhum Aris Sanda yang menjadi korban pembunuhan kelompok bersenjata OPM, dari Distrik Mbua menuju Wamena harus dilakukan melalui jalur udara.

Pangkoops TNI Habema Brigadir Jenderal TNI Riyanto memerintahkan bantuan evakuasi udara bagi Sinta Bilolo pada Kamis. Evakuasi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan Sinta yang tengah berada dalam suasana duka serta keterbatasan akses darat di jalur Mbua–Wamena.

"Kami memerintahkan evakuasi istri korban pembunuhan OPM melalui jalur udara karena terhambatnya pelayanan transportasi darat pada jalur Mbua–Wamena," kata Riyanto dalam keterangan tertulis di Wamena, Kamis.

Menurut Riyanto, bantuan evakuasi diberikan untuk memastikan Sinta dapat melanjutkan perjalanan secara aman hingga Wamena. Kondisi jalur darat yang belum dapat digunakan membuat jalur udara menjadi pilihan untuk membantu perjalanan tersebut.

"Dari Mbua, Ibu Sinta bersama dua pendamping, Ibu Haryati dan Ibu Murni, dievakuasi menggunakan helikopter Bell dan Fennec menuju Kenyam. Setibanya di Kenyam, ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wamena menggunakan pesawat Caravan, seluruh rangkaian evakuasi berlangsung aman dan lancar," ujarnya.

Baca Juga: Konflik Papua Masuk Fase Baru? Menteri HAM Soroti Perlawanan Berbasis Ras dan Etnis

Dalam pelaksanaannya, Sinta tidak melakukan perjalanan seorang diri. Ia didampingi Ibu Haryati dan Ibu Murni. Ketiganya terlebih dahulu diterbangkan dari Mbua menuju Kenyam menggunakan helikopter Bell dan Fennec.

Setelah tiba di Kenyam, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Wamena menggunakan pesawat Caravan. Seluruh rangkaian evakuasi tersebut, menurut Riyanto, berjalan aman dan lancar.

Ia menjelaskan, bantuan evakuasi udara itu diberikan atas pertimbangan kemanusiaan sekaligus keselamatan keluarga korban yang membutuhkan dukungan untuk melakukan perjalanan di tengah situasi sulit.

"Ibu Sinta sedang dalam suasana duka dan membutuhkan perjalanan yang aman. Ketika akses darat belum memungkinkan, saya perintahkan jajaran memberikan bantuan evakuasi udara agar beliau bersama pendamping dapat sampai ke Wamena dengan selamat, dalam keadaan seperti ini keselamatan dan kemanusiaan harus menjadi prioritas," katanya.

Riyanto juga menegaskan bahwa kondisi geografis maupun keterbatasan akses transportasi tidak seharusnya menjadi penghalang ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Menurutnya, dukungan terhadap masyarakat harus tetap diberikan, terutama ketika mereka berada dalam kondisi yang membutuhkan bantuan.

"Bagi kami, kehadiran negara harus dapat dirasakan pada saat masyarakat paling membutuhkan. Hadir memberikan rasa aman, membantu perjalanan dan memastikan mereka tidak menghadapi masa-masa sulit seorang diri," ujarnya. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
istri korban pembunuhan Pangkoops TNI Habema OPM Pembunuhan Papua