Peta persaingan ganda campuran Indonesia menuju Olimpiade Paris 2024 menarik. Bukan hanya di pelatnas karena memiliki dua pasangan andalan, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari dan Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati. Melainkan juga ada Dejan Ferdinansyah/Gloria Emmanuelle Widjaja yang di luar pelatnas dan dinaungi PB Djarum. Dejan/Gloria ketika dipasangkan langsung menggebrak dengan menjuarai berbagai turnamen. Kombinasi keduanya juga bagus. Pengalaman Gloria dan juga power dari Dejan cukup padu.
Saya melihat tiga pasangan ini yang paling berpotensi untuk bisa menjadi wakil Indonesia di Paris 2024. Persaingan pelatnas dan nonpelatnas tersebut sangat baik bagi Indonesia. Sebab, para andalannya bakal sama-sama berjuang untuk bisa mendapatkan tiket. Tentu, muaranya kembali untuk Merah Putih.
Selain tiga pasangan di atas, nama Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti juga patut diperhitungkan. Apalagi, pasangan ini memiliki pengalaman di Olimpiade sebelumnya, Tokyo 2020.
Akan tetapi, kondisinya saat ini bakal sangat sulit bagi PraMel (sapaan Praveen/Melati). Khususnya bagi Praveen yang belakangan mengalami cedera. Tapi, kita lihat bagaimana persiapan latihannya. Jika optimal dan konsisten, ya bisa saja.
Saat ini, baik yang berada di naungan PP PBSI maupun di luar PP PBSI sudah harus maksimal untuk menuju persaingan. Kebetulan, saya diminta Pak Yoppy Rosimin selaku ketua PB Djarum untuk membantu pemain yang ada di klub (PB Djarum). Otomatis saya akan membantu Vita Marissa yang menangani PraMel ataupun DeGlo (sapaan Dejan/Gloria) untuk bisa lolos ke Olimpiade.
Namun, saya tegaskan di sini saya hanya membantu Vita. Seluruh program 100 persen dari Vita. Saya tidak banyak intervensi. Lebih ke motivasi. Saya tanya Vita, apa saja yang bisa saya bantu. Yang dirasa belum jalan saya isi. Jadi, hanya di event-event penting seperti persiapan menuju All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade saya datang ke GOR Djarum yang berada di Jakarta.
Menurut saya memang bakal sulit bisa lolos ke Olimpiade. Namun, dengan strategi yang tepat, salah satunya strategi pengiriman atlet untuk mengikuti turnamen, saya rasa bisa terealisasi.
Memilih turnamen di Race to Olympics saat ini memang menjadi hal penting. Tidak boleh salah kirim. Kalau salah, pasti kalah. Kita harus terus pantau persaingan. Jadi, kita tahu akan mengirimkan atlet untuk turnamen apa. Jika hasilnya tidak sesuai target, harus berganti ke turnamen lain. Tujuannya untuk menutup lubang poin yang hilang.
Selain dari pemain Indonesia, untuk ganda campuran dunia saat ini, saya melihat yang dominan ada tiga pasangan. Mereka saya prediksi bisa mengamankan tiket ke Paris 2024. Yaitu, ganda Tiongkok Zheng Siwei/Guang Yaqiong, pasangan Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino, dan wakil Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai.
Pada situasi kompetisi yang demikian ketat, saya rasa sudah bagus jika ada satu wakil Indonesia di ganda campuran yang bisa lolos ke Olimpiade. Tapi, saya harap bisa ada dua pasangan. Kans untuk lolos dua pasang memang sulit lantaran harus ada dua ganda campuran Indonesia yang berada di posisi delapan besar. Jika tidak, ya terpaksa hanya satu. (raf/c17/dra/JP)
*Eks pelatih ganda campuran pelatnas
Editor : Tanya Rompas