RADARPAPUA - PSSI kembali mengingatkan seluruh pihak agar menjaga iklim sepak bola nasional tetap kondusif.
Hal itu disampaikan setelah muncul aksi flare dan kericuhan suporter dalam sejumlah pertandingan penting yang berlangsung di kompetisi sepak bola Indonesia.
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menegaskan bahwa sepak bola Indonesia hingga kini masih berada dalam pengawasan FIFA pasca tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Oktober 2022.
Karena itu, seluruh elemen sepak bola, termasuk suporter, diminta untuk lebih dewasa dalam menyikapi hasil pertandingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Yunus setelah dirinya menyaksikan adanya “pesta” flare di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu, saat laga final Pegadaian Championship 2025/2026 antara Garudayaksa melawan PSS Sleman.
Pertandingan berlangsung sengit hingga babak tambahan waktu. Kedua tim bermain imbang 2-2 sebelum Garudayaksa akhirnya keluar sebagai juara lewat drama adu penalti dengan skor 4-3.
Usai pertandingan, aksi flare dari tribun suporter menjadi perhatian PSSI.
Yunus berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
"Dan ada reaksi setelah pertandingan, kita juga berharap semoga ini tidak terulang lagi. Dan tentu juga perlahan-lahan kita berharap kawan-kawan suporter untuk selalu dewasa menerima kemenangan, kekalahan, dan kemudian meluapkan kemenangan dan atau kekalahannya," kata Yunus saat ditemui awak media termasuk ANTARA di Stadion Maguwoharjo, Sabtu, setelah upacara pemberian penghargaan Championhsip.
Ia kembali menegaskan pentingnya menjaga citra sepak bola nasional di mata dunia.
Menurutnya, sportivitas dan sikap elegan dari para pendukung klub menjadi bagian penting dalam perkembangan sepak bola Indonesia ke depan.
"Kita ingat masih dalam pengawasan FIFA, kita berharap sepak bola ke depan berjalan dengan baik tentu tidak terlepas dari sportivitas, elegan yang diberikan oleh suporter masing-masing klub kepada sepak bola Indonesia dan atau kepada timnya," tambah dia.
Sebelum insiden flare di Sleman, kericuhan juga terjadi di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, pada Jumat.
Situasi memanas setelah Persipura Jayapura gagal meraih promosi ke Super League usai kalah 0-1 dari Adhyaksa.
Kekalahan tersebut memicu kekecewaan ribuan suporter Persipura. Setelah pertandingan berakhir, sejumlah pendukung turun ke lapangan dan melakukan aksi perusakan fasilitas stadion.
Tidak hanya itu, beberapa kendaraan juga dilaporkan dibakar dalam kericuhan tersebut.
Menanggapi kondisi itu, Yunus menegaskan bahwa hingga saat ini PSSI belum mencabut aturan larangan suporter tandang.
Pihaknya masih akan melakukan pembahasan lebih lanjut bersama berbagai pihak terkait sebelum mengambil keputusan untuk musim depan.
"Kita lihat perkembangannya seperti apa, LIB juga menyampaikan laporan kepada PSSI dan tentu Ketua Umum, Eksekutif Komite akan mengkaji itu apakah layak atau tidak untuk dibuka home dan away untuk suporter," ungkap dia.
Meski diwarnai sejumlah insiden, Yunus tetap bersyukur kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia musim ini dapat berjalan hingga selesai.
Namun, ia mengakui berbagai kejadian yang muncul tetap menjadi bahan evaluasi penting bagi seluruh pihak.
"Dan kita bersyukur setidaknya berjalan semua dengan lancar walaupun terjadi hal yang tidak kita inginkan di Jayapura dan tentu itu juga menjadi bahan evaluasi kita bersama-sama. Tetapi secara keseluruhan kita bersyukur Championship berjalan dengan lancar dan tentu kita akan pelihara ini, kita akan rawat ini," ucap dia. (an)
Editor : Tina Mamangkey