Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Raksasa Tanpa Mahkota: 12 Klub yang Belum Pernah Juara Liga Champions

Tina Mamangkey • Selasa, 2 Juni 2026 | 10:46 WIB
Trofi Liga Champions. (AP Photo/Francisco Seco)
Trofi Liga Champions. (AP Photo/Francisco Seco)

 

RADARPAPUA - Liga Champions bukan sekadar turnamen; ia adalah altar suci bagi klub-klub elite Eropa. 

Setiap musim, tim-tim terbaik bertarung demi keabadian sejarah. Bagi sang pemenang, kejayaan abadi menanti.

Namun bagi yang kalah, malam final adalah neraka emosional yang ingin segera dihapus dari ingatan. 

Impian yang dibangun berbulan-bulan bisa hancur lebur hanya dalam waktu 90 menit (atau lewat drama adu penalti).

​Sejak kompetisi ini digulirkan pada tahun 1955 (dulu bernama Piala Eropa), ada 23 klub berbeda yang berhasil mencicipi takhta juara.

Real Madrid berdiri di puncak tertinggi sebagai penguasa mutlak dengan koleksi 14 trofi, disusul barisan raksasa Inggris yang kerap menciptakan keajaiban dramatis.

​Namun, sepak bola selalu punya sisi gelap. Di balik kemegahan trofi Si Kuping Besar, ada deretan klub raksasa yang sejarah besarnya seolah "cacat" karena belum pernah sekalipun memenangkannya.

​Bagaimana Menentukan Peringkat Ini?

​Penentuan 12 klub dalam daftar ini didasarkan pada tiga indikator utama:

​Berikut adalah 12 klub raksasa Eropa yang masih penasaran dan mengusung misi mendobrak kutukan sejarah.

​​12. Rangers FC (Skotlandia)

​Membicarakan Rangers adalah membicarakan salah satu basis suporter paling fanatik dan militan di kolong langit.

Sayangnya, gairah luar biasa dari tribune Ibrox belum mampu menular ke atas lapangan Liga Champions. Prestasi terbaik The Gers hanyalah mencapai semifinal di era lawas.

​Absennya trofi ini menjadi noda abadi dalam rivalitas domestik mereka dengan Celtic, yang bangga karena sudah pernah juara Eropa.

Rasanya ironis melihat klub sebesar Rangers mandek di Eropa, dan tanda-tanda mereka akan bangkit ke level tertinggi dalam waktu dekat pun belum terlihat.

Di kompetisi kasta kedua dan ketiga, mereka juga kerap apes, seperti saat kalah di final Piala UEFA 2008 dan Liga Europa 2022.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

1959/1960 Semifinal Eintracht Frankfurt

1978/1979 Perempat Final FC Koln

1987/1988 Perempat Final Steaua Bucharest

11. Olympiacos (Yunani)

​Sebagai negara dengan tradisi sepak bola yang kuat, Yunani memiliki satu anomali: belum ada satu pun klub mereka yang pernah rajin menguasai Eropa.

Olympiacos adalah penguasa domestik, namun di Liga Champions, langkah terjauh mereka hanyalah babak perempat final pada musim 1998/1999 sebelum dihentikan Juventus.

​Meski begitu, gairah Eropa mereka tidak sepenuhnya padam. Olympiacos sukses mengobati luka dengan menjuarai UEFA Conference League pada tahun 2024.

Di bawah sokongan finansial miliarder Evangelos Marinakis (yang juga pemilik Nottingham Forest), klub ini punya modal untuk bermimpi besar.

Tapi untuk saat ini, realitasnya mereka harus puas mendominasi kompetisi lokal saja.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

1998/1999 Perempat Final Juventus

2009/2010 Babak 16 Besar Bordeaux

2013/2014 Babak 16 Besar Manchester United

10. Dynamo Kiev (Ukraina)

​Sejak tahun 1990, raksasa Ukraina ini hampir tidak pernah absen dari panggung kompetisi Eropa. Masa keemasan Dynamo Kiev terjadi di paruh akhir abad ke-20 dengan catatan tiga kali menembus semifinal.

​Klub ini adalah kawah candradimuka bagi striker legendaris sekelas Andriy Shevchenko—yang ironisnya baru bisa mengangkat trofi Liga Champions setelah pindah ke AC Milan.

Selain Sheva, mereka memiliki Sergei Rebrov, mesin gol utama mereka di kompetisi tertinggi Eropa dengan torehan 31 gol.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

1976/1977 Semifinal Borussia Monchengladbach

1986/1987 Semifinal FC Porto

1998/1999 Semifinal Bayern Munchen

9. Galatasaray (Turki)

​"Selamat Datang di Neraka." Spanduk ikonik itu merangkum bagaimana atmosfer kandang Galatasaray yang ditakuti seluruh klub Eropa.

Sayangnya, intimidasi suporter Turki yang luar biasa ini belum cukup kuat untuk membawa pulang trofi Liga Champions.

​Prestasi terbaik Aslanlar (Singa-singa Istanbul) di kompetisi ini hanyalah babak perempat final.

Padahal, mereka sempat mengecap manisnya gelar benua saat memenangi Piala UEFA dan Piala Super UEFA pada tahun 2000.

Hingga kini, para fans masih setia menanti kapan keajaiban tahun 2000 itu menular ke kompetisi paling bergengsi.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2000/2001 Perempat final Real Madrid

2012/2013 Perempat final Real Madrid

2013/2014 Babak 16 Besar Chelsea

8. Schalke 04 (Jerman)

​Meskipun dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemunduran hebat, Schalke tetaplah institusi sepak bola yang masif di Jerman.

Mereka adalah klub Jerman pertama yang meraih status double winner pada 1937, dan secara jumlah anggota suporter, mereka adalah yang terbesar keempat di dunia.

​Namun, cinta mati para suporternya berbanding terbalik dengan prestasi Eropa mereka yang minim (hanya satu Piala UEFA dan dua Piala Intertoto).

Penderitaan fans Schalke kian lengkap setelah klub kesayangan mereka terdegradasi dari Bundesliga pada musim 2022/2023, meninggalkan lubang besar dalam peta sepak bola Jerman.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2010/2011 Semifinal Manchester United

2007/2008 Perempat final Barcelona

2018/2019 Babak 16 Besar Manchester City

7. Valencia (Spanyol)

​Melihat kondisi Valencia saat ini, sulit dipercaya bahwa di awal milenium mereka adalah salah satu tim yang paling ditakuti di Eropa.

Los Che berhasil menembus final berturut-turut pada tahun 2000 dan 2001, namun keduanya berakhir dengan patah hati yang mendalam.

​Pada final tahun 2000, mereka digilas sesama tim Spanyol, Real Madrid, dengan skor telak 3-0.

Setahun kemudian, luka mereka makin menganga. Sempat unggul cepat lewat penalti Gaizka Mendieta saat melawan Bayern Munchen, raksasa Jerman itu membalas dan akhirnya mengubur mimpi Valencia lewat drama adu penalti yang dramatis (5-4).

Kehilangan dua final beruntun menyisakan trauma mendalam bagi publik Mestalla.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2000/2001 Final Bayern Munchen

1999/2000 Final Real Madrid

2006/2007 Perempat Final Chelsea

​6. Bayer Leverkusen (Jerman)

​Sebelum terkenal dengan sepak bola atraktifnya baru-baru ini, Bayer Leverkusen pernah membawa kutukan yang sangat menyakitkan pada musim 2001/2002.

Hanya dalam hitungan minggu, potensi meraih treble (tiga gelar) musnah seketika. Mereka finis sebagai runner-up di Bundesliga, Piala Liga, dan puncaknya di Liga Champions.

​Di laga final tahun 2002 itu, langkah Leverkusen dihentikan oleh Real Madrid dengan skor 2-1.

Pertandingan tersebut diingat dunia berkat gol tendangan voli Zinedine Zidane yang spektakuler—salah satu gol terindah dalam sejarah sepak bola. Sejak malam di Glasgow itu, Leverkusen kesulitan melangkah jauh di Eropa.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2001/2002 Final Real Madrid

1997/1998 Perempat final Real Madrid

2024/2025 Babak 16 Besar Bayern Munchen

5. Olympique Lyon (Prancis)

​Prancis sejauh ini hanya punya Marseille dan PSG sebagai pemenang kompetisi elite Eropa.

Lyon, meski sempat mendominasi kompetisi domestik selama bertahun-tahun, selalu menemui tembok tebal bernama Bayern Munchen saat mencoba melangkah ke final.

​Dua kali masuk semifinal, dua kali pula mereka dihancurkan oleh raksasa Bavaria tersebut.

Pada tahun 2010, hat-trick Ivica Olic menyingkirkan mereka dengan agregat 4-0. Sepuluh tahun kemudian (2020), di tengah format satu leg akibat pandemi COVID-19 di Portugal, Lyon kembali dihajar dengan skor telak 3-0.

Pintu Lyon untuk menjadi raja Eropa tampaknya kian tertutup seiring waktu.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2019/2020 Semifinal Bayern Munchen

2009/2010 Semifinal Bayern Munchen

2005/2006 Perempat final AC Milan

4. AS Roma (Italia)

​Sebagai klub yang mewakili ibu kota Italia, AS Roma kaya akan tradisi, sejarah, dan gairah suporter yang luar biasa.

Sayangnya, tuah itu sering kali menguap saat memasuki panggung Liga Champions.

​Momen terdekat mereka dengan trofi terjadi pada tahun 1984. Bermain di hadapan pendukungnya sendiri di Stadio Olimpico, Roma yang lebih difavoritkan justru keok dari Liverpool lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1.

Eksekusi penalti Alan Kennedy malam itu menghancurkan hati seisi kota Roma. Ketika mereka kembali mendapat kesempatan di semifinal tahun 2018, lagi-lagi Liverpool yang menjadi mimpi buruk mereka.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

1983/1984 Final Liverpool

2017/2018 Semifinal Liverpool

2007/2008 Perempat final Manchester United

3. Tottenham Hotspur (Inggris)

​Bagi pendukung Spurs, mengenang musim 2018/2019 adalah kombinasi antara keajaiban magis dan kepedihan yang luar biasa.

Sepanjang fase gugur, The Lilywhites menantang semua prediksi kolumnis sepak bola dengan menyingkirkan Dortmund, Manchester City (lewat aturan gol tandang), dan Ajax Amsterdam berkat hat-trick dramatis Lucas Moura di menit-menit akhir babak kedua.

​Namun, dongeng indah itu berakhir antiklimaks di Madrid.

Menghadapi Liverpool di laga final, gawang Spurs kebobolan penalti kilat Mohamed Salah di menit pertama dan digenapkan oleh Divock Origi di penghujung laga.

Spurs kalah 2-0 dalam pertandingan di mana mereka sebenarnya menciptakan banyak peluang bagus. Kekeringan trofi mereka pun berlanjut.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2018/2019 Final Liverpool

1961/1962 Semifinal Benfica

2010/2011 Perempat final Real Madrid

2. Arsenal (Inggris)

​Kutukan London Utara di Liga Champions ternyata tidak hanya berlaku untuk Spurs.

Rival abadi mereka, Arsenal, bahkan memiliki catatan yang lebih menyesakkan: kalah di dua laga final.

​Final pertama terjadi pada tahun 2006. Setelah tampil perkasa menyingkirkan Real Madrid, Juventus, dan Villarreal, Arsenal menantang Barcelona di Paris.

Sempat unggul melalui sundulan Sol Campbell, mimpi juara runtuh di babak kedua setelah Samuel Eto'o dan Juliano Belletti mencetak gol telat.

Setahun kemudian, kepedihan fans bertambah saat sang ikon, Thierry Henry, memutuskan pindah ke Barcelona.

​Dua puluh tahun kemudian pada musim 2025/2026, Arsenal kembali ke final setelah melewati adangan Leverkusen, Sporting CP, dan Atletico Madrid. Skenarionya mirip: unggul terlebih dahulu dari sang juara bertahan, PSG, namun akhirnya terkejar dan harus merelakan trofi melayang lewat adu penalti yang kejam.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2025/2026 Final Paris Saint-Germain

2005/2006 Final Barcelona

2008/2009 Semifinal Manchester United

1. Atletico Madrid (Spanyol)

​Kalah di final Liga Champions itu menyakitkan, namun kalah dari tetangga sekaligus rival bebuyutan Anda sendiri dalam drama perpanjangan waktu? Itu adalah definisi siksaan psikologis terdalam di sepak bola.

Tragisnya, Atletico Madrid merasakannya dua kali dalam rentang waktu tiga tahun.

​Pada final 2014, trofi sudah berada di depan mata Atletico hingga menit ke-93 sebelum Sergio Ramos mencetak gol penyama kedudukan yang legendaris. Di babak perpanjangan waktu, mental Atletico rontok dan digilas Real Madrid 4-1.

​Dua tahun berselang (2016), skenario kejam kembali berulang. Meski Yannick Carrasco sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1, Atletico akhirnya harus menyerah kalah dalam babak adu penalti, di mana Cristiano Ronaldo keluar sebagai eksekutor penentu.

Tiga kali menembus final sepanjang sejarah klub, tiga kali pula Los Colchoneros pulang dengan tangan hampa.

Musim Kampanye Liga Champions Terbaik Tersingkir oleh

2015/2016 Final Real Madrid

2013/2014 Final Real Madrid

1973/1974 Final Bayern Munchen

Siapa yang Paling Berpeluang Mematahkan Kutukan?

Dari seluruh klub dalam daftar ini, Atletico Madrid dan Arsenal dianggap sebagai kandidat terkuat untuk akhirnya meraih gelar Liga Champions dalam waktu dekat. 

Keduanya memiliki kualitas skuad, kekuatan finansial, dan pengalaman bersaing di level tertinggi Eropa.

Namun sejarah telah menunjukkan bahwa Liga Champions sering kali menghadirkan kejutan. Karena itu, bukan tidak mungkin salah satu klub yang selama puluhan tahun menjadi "hampir juara" akhirnya mampu mengakhiri penantian panjang mereka dan mengangkat trofi paling bergengsi di sepak bola Eropa. (tn/jp)

 

 

Editor : Tina Mamangkey
#klub raksasa #belum pernah juara #Liga Champhions #AS Roma #Arsenal