Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kehilangan Magis: Skuad Mewah Brasil Tak Lagi Ditakuti di Panggung Piala Dunia

Tina Mamangkey • Senin, 15 Juni 2026 | 07:24 WIB
Sinyal Bahaya Selecao Ketika Nama Besar Brasil Tak Lagi Bikin Lawan Gemetar. (Istimewa)
Sinyal Bahaya Selecao Ketika Nama Besar Brasil Tak Lagi Bikin Lawan Gemetar. (Istimewa)

 

RADARPAPUA - Di atas kertas, Brasil akan selalu menjadi kiblat utama sepak bola jagat raya. Sematan lima bintang di atas lambang Selecao adalah bukti sahih supremasi mereka sebagai pemilik trofi Piala Dunia terbanyak sepanjang sejarah, sebuah rekor prestisius yang belum tersentuh oleh negara mana pun hingga detik ini.

Namun, romansa kejayaan masa lalu itu perlahan mulai terkikis. Brasil era modern dianggap telah kehilangan taringnya dan tidak lagi memancarkan aura mengerikan yang membuat lawan gemetar sebelum bertanding.

Sinyal penurunan reputasi ini kembali mencuat ke permukaan setelah raksasa Amerika Selatan tersebut dipaksa bermain imbang 1-1 oleh Maroko pada laga pembuka Piala Dunia 2026.

Kendati hasil seri bukanlah akhir dari segalanya, jalannya laga mempertontonkan realita baru bahwa peta kekuatan sepak bola dunia kini telah bergeser secara radikal.

Dalam laga tersebut, Maroko tampil menggebrak tanpa sedikit pun rasa inferior. Jika dahulu tim-tim semenjana akan memilih taktik bertahan total saat bersua Brasil, tim asal Afrika Utara ini justru memperlihatkan pendekatan yang kontras.

Maroko dengan berani menerapkan strategi tekanan tinggi, memenangkan duel-duel kunci di lini vital, dan dengan tenang mendikte penguasaan bola pada beberapa momentum krusial.

Skema agresif ini sukses membuat lini tengah dan belakang Brasil kelimpungan. Meskipun dihuni barisan pemain dengan kualitas individu magis, Selecao tampak mati kutu dan gagal mendominasi permainan secara konsisten sepanjang 90 menit.

Secara komposisi tim, kedalaman skuad Brasil sebenarnya tetap menjadi salah satu yang paling mewah di turnamen ini.

Mereka memiliki fondasi yang sangat solid di setiap lini, mulai dari ketangguhan Alisson Becker di bawah mistar gawang, hingga kokohnya lini pertahanan yang dikomandoi oleh Marquinhos yang sarat pengalaman.

Di sektor sentral, duet Casemiro dan Bruno Guimaraes menjadi motor penggerak, sementara daya gedor lini serang dipercayakan kepada bintang-bintang kelas dunia seperti Vinicius Junior, Raphinha, dan Matheus Cunha.

Meskipun secara kualitas skuad ini dinilai sebagai salah satu yang terbaik di turnamen, para pengamat sepak bola melihat ada rantai yang terputus.

Brasil saat ini dinilai hanya sekadar menjadi kumpulan pemain hebat dari klub-klub elite Eropa, bukan sebuah kesatuan tim solid yang memiliki identitas kuat sebagai penguasa turnamen mayor.

Rapuhnya mental juara ini tercermin dari rekam jejak mereka sejak terakhir kali mengangkat trofi emas pada tahun 2002.

Langkah mereka di Piala Dunia selalu terantuk di fase krusial, seperti saat dihentikan Belgia pada babak perempat final edisi 2018, dan kembali terkubur oleh Kroasia di fase yang sama empat tahun setelahnya.

Bahkan menjelang Piala Dunia 2026, Brasil hanya mampu finis di peringkat kelima zona kualifikasi Amerika Selatan, sebuah catatan minor yang sangat tidak biasa bagi negara dengan tradisi sepak bola sebesar mereka.

Walau tengah disorot, tentu terlalu gegabah untuk langsung menyimpulkan bahwa Brasil telah habis.

Mengingat turnamen baru saja dimulai, kedalaman materi pemain yang mereka miliki sewaktu-waktu tetap bisa menciptakan perbedaan dan menjadi pembeda di lapangan.

Namun satu hal yang pasti, lanskap sepak bola modern telah bertransformasi total. Negara-negara seperti Maroko, Kroasia, hingga Jepang kini menginjakkan kaki di putaran final bukan lagi sekadar sebagai tim penggembira atau peserta partisipan.

Mereka datang dengan cetak biru taktik yang matang serta keyakinan penuh bahwa di era modern ini, siapa pun bisa dikalahkan, termasuk sang raja sepak bola.

Selecao memang tetap menjadi raksasa sepak bola dunia, namun rasa takut yang dulu selalu menyertai nama besar mereka tampaknya mulai memudar seiring semakin ketat dan meratanya persaingan di level tertinggi. 

Editor : Tina Mamangkey
#Selecao #Brasil #piala dunia 2026 #Timnas Brasil