Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Rahasia Lionel Messi Tetap Menggila di Usia Hampir 39 Tahun, Hattrick Bersejarah Bungkam Semua Keraguan

Tina Mamangkey • Kamis, 18 Juni 2026 | 07:04 WIB
Lionel Messi belum habis! hattrick sensasional bikin dunia sepak bola kembali terpukau. (ANTARA/Hakan Akgün - Anadolu Agency)
Lionel Messi belum habis! hattrick sensasional bikin dunia sepak bola kembali terpukau. (ANTARA/Hakan Akgün - Anadolu Agency)

 

RADARPAPUA - Banyak yang mengira usia akan menjadi penghalang bagi Lionel Messi untuk kembali bersinar di Piala Dunia 2026. 

Menjelang ulang tahunnya yang ke-39, tak sedikit yang memprediksi sang megabintang sudah melewati masa terbaiknya dan tak lagi mampu menjadi pembeda bagi Argentina.

Namun, semua keraguan itu dijawab Messi dengan cara yang paling sempurna: lewat penampilan luar biasa yang kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa.

Setelah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, banyak yang menganggap kisah indah karier internasional Messi telah mencapai titik puncaknya.

Gelar tersebut seolah menjadi penutup sempurna bagi perjalanan seorang pemain yang hampir memenangkan seluruh trofi bergengsi di dunia sepak bola.

Namun, Piala Dunia 2026 justru menghadirkan tantangan yang berbeda. Kali ini, Messi bukan hanya menghadapi lawan di atas lapangan, tetapi juga harus menjawab keraguan banyak orang yang menilai usianya sudah terlalu senja untuk tetap tampil di level tertinggi.

Nyatanya, usia hanyalah angka bagi kapten Argentina itu. Meski tak lagi mengandalkan kecepatan dan dribel panjang seperti saat muda, kecerdasan membaca permainan, visi, penyelesaian akhir, serta kemampuannya menentukan jalannya pertandingan masih berada di level tertinggi.

Kini Messi memang lebih banyak berjalan dibanding berlari. Namun, setiap langkahnya memiliki tujuan. Ia menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar soal kecepatan, melainkan tentang kecerdasan dalam menemukan ruang, menentukan waktu yang tepat, dan membuat keputusan terbaik.

Semua kualitas tersebut kembali diperlihatkannya saat Argentina menghadapi Aljazair pada laga Grup J di Stadion Kansas City, Kansas, Rabu pagi. Argentina menang meyakinkan 3-0 dan seluruh gol dicetak oleh Lionel Messi.

Gol pembuka lahir pada menit ke-17 setelah Rodrigo De Paul mengirim umpan akurat ke ruang sempit. Hanya dalam hitungan detik, Messi mengecoh pertahanan lawan sebelum melepaskan tendangan kaki kiri yang tak mampu dihentikan Luca Zidane, putra legenda sepak bola Prancis, Zinedine Zidane.

Gol kedua tercipta pada menit ke-60. Berawal dari tembakan keras Alexis Mac Allister yang gagal diamankan Luca Zidane, Messi dengan sigap menyambar bola muntah dan menuntaskannya dengan kaki kanan secara tenang untuk memperbesar keunggulan Argentina.

Pesta Argentina sekaligus pertunjukan Messi ditutup pada menit ke-76. Gol ketiganya lahir melalui penyelesaian khas yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas sang kapten. Hattrick itu sekaligus menjadi hattrick pertama Messi sepanjang sejarah penampilannya di Piala Dunia.

Pencapaian tersebut terasa semakin istimewa karena diraih tepat 20 tahun setelah debutnya di Piala Dunia bersama Argentina. Hingga kini, Messi telah mencatatkan 200 penampilan bersama tim nasional.

Tambahan tiga gol membuat Messi sementara memimpin daftar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 dengan koleksi tiga gol. Lebih membanggakan lagi, koleksi golnya di Piala Dunia kini mencapai 16 gol, menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen tersebut.

Penampilan fenomenal Messi juga menuai pujian dari para pemain top dunia.

Erling Haaland, yang mencetak dua gol pada debut Piala Dunianya saat Norwegia mengalahkan Irak 4-1, tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

"Messi itu gila".

Sementara itu, Kylian Mbappe juga kembali menunjukkan kualitasnya bersama Prancis. Dua gol yang ia cetak membawa Les Bleus mengalahkan Senegal 3-1.

Tambahan gol tersebut membuat Mbappe resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Prancis di semua kompetisi dengan 58 gol, melewati rekor Olivier Giroud yang sebelumnya mengoleksi 57 gol.

Tak hanya itu, koleksi 14 gol Mbappe di ajang Piala Dunia sejak debutnya pada 2018 juga membuatnya melampaui rekor Just Fontaine sebagai pencetak gol terbanyak Prancis sepanjang sejarah Piala Dunia.

Meski Haaland dan Mbappe tengah berada di puncak performa dalam usia emas mereka, apa yang dilakukan Messi terasa jauh lebih luar biasa. Di usia yang hampir menyentuh kepala empat, ia masih mampu tampil dominan dan menjadi sosok paling menentukan di lapangan.

Rodrigo De Paul bahkan menilai Messi tidak pernah bermain demi mengejar rekor pribadi.

“Percayalah, Messi bahkan tidak tahu sebagian besar rekor yang dia pecahkan. Saya bersumpah bahwa dia tidak mengejar rekor individu, tetapi dia akhirnya mencapai semuanya," kata De Paul, rekan setim Messi di Inter Miami.

Bagi Messi sendiri, sepak bola selalu menjadi soal kecintaan terhadap permainan, bukan sekadar mengejar statistik.

"Saya suka bermain sepak bola, itu sudah menjadi gairah saya sejak kecil. Ketika saya dalam performa terbaik, saya memberikan semua yang saya miliki di lapangan".

Perjalanan Panjang Menuju Kejayaan

Menjuarai Piala Dunia merupakan impian terbesar Messi sejak kecil. Bahkan, ia pernah menyebut trofi tersebut sebagai hadiah terindah yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.

Namun, perjalanan menuju gelar dunia sama sekali tidak mudah. Dalam empat edisi Piala Dunia sebelumnya pada 2006, 2010, 2014, dan 2018, Argentina selalu gagal mengangkat trofi.

Kesempatan terbaik datang pada final Piala Dunia 2014 di Brasil. Sayangnya, Argentina harus mengakui keunggulan Jerman di partai puncak.

Kegagalan demi kegagalan sempat membuat Messi memutuskan pensiun dari tim nasional pada 2016. Namun, keputusan itu tak berlangsung lama. Ia kembali memperkuat Argentina dan perlahan membangun kembali kejayaan bersama negaranya.

Perubahan besar terjadi ketika Lionel Scaloni dipercaya menjadi pelatih Argentina. Mantan rekan setim Messi di Piala Dunia 2006 itu berhasil menemukan formula yang tepat untuk memaksimalkan kemampuan sang kapten.

Scaloni memberi kebebasan kepada Messi beroperasi sebagai nomor 10. Ia tak lagi dipaksa terus-menerus menguasai bola, tetapi diberi ruang untuk muncul pada momen-momen krusial dan menentukan arah serangan.

Pendekatan tersebut membuat permainan Argentina jauh lebih seimbang. Tim tidak lagi bergantung sepenuhnya pada aksi individu Messi, melainkan bekerja sebagai satu kesatuan untuk memaksimalkan kualitas terbaik sang kapten.

Hasilnya mulai terlihat ketika Argentina menjuarai Copa America 2021. Kesuksesan itu berlanjut dengan gelar Piala Dunia 2022 dan Copa America 2024.

Kini, pada Piala Dunia 2026, Messi kembali membuktikan bahwa dirinya belum habis. Seusai mencetak hattrick ke gawang Aljazair, akun resmi Piala Dunia 2026 pun mengunggah kalimat sederhana yang menggambarkan kehebatan sang megabintang.

"Messi lagi, lagi, dan lagi..."

Kalimat singkat itu menjadi gambaran bagaimana Messi terus menghadirkan keajaiban di saat banyak orang menganggap masa terbaiknya telah usai.

Bahkan, Lionel Scaloni mengaku sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kontribusi pemain berusia hampir 39 tahun tersebut. Saat menarik Messi keluar lapangan pada menit ke-80 dan menggantikannya dengan Nico Paz, kamera menangkap mata sang pelatih yang berkaca-kaca.

"Saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan Messi. Selama 20 tahun, dia telah membiasakan kita menyaksikan hal-hal seperti ini, dan dia menginspirasi semua orang yang menontonnya bermain," ujar Scaloni. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
#Argentina #piala dunia 2026 #Lionel Messi